Jumat, 15 April 2016

cinta nona chubby season 2



Cinta Si nona Chubby Season 2


CINTA...
Terimakasih tuhan sudah memberiku cinta yang begitu indah...
Cinta yang membuatku bangkit dari keterpurukan...
Cinta yang membawaku lebih percaya diri dan cinta yang membawaku serasa disurga...

Sudah hampir 3 tahun kami bersama-sama. Sampai detik ini, hubungan kami masih baik-baik saja. Kami bahagia meskipun jarak dan waktu memisahkan kami berdua.

Sekitar 2 bulan yang lalu, adit dipindah tugaskan ke pulau kalimantan. Demi menunjang karirnya, adit tidak bisa menolak hal itu. Aku tau, ini sulit bagi kami, namun aku yakin rasa cinta kami yang begitu besar pasti tidak akan membuat jarak menjadi penghalang.

Dan ada satu hal lagi yang mengejutkan, kini aku tidak lagi dijuluki si “chubby” karena sekitar setahun lalu aku memutuskan menjalani program diet. Hasilnya fantastis. Dari yang 58 kg kini menjadi 47 kg. Menurutku bb tersebut sudah pas untuk ukuran tubuhku.

Suara sepatu terdengar menelusuri koridor, banyak mata yang mengarah dan berdecak kagum. Ya, suara itu berasal dari arahku. Kini aku semakin percaya diri dan tidak perlu minder ketika berjalan sendirian.
“ciieee.. yang sekarang jadi primadona...” goda lisa sahabatku
“ssstt... jangan gitu, ntar aku jadi sombong lagi...” sahutku

Kami berdua sedang berjalan menuju kantin kampus. Kantin yang tidak pernah sepi oleh pengunjung.
“rii... liat tuh cowo yang pake jaket biru itu...” lirik lisa dan menyenggol lenganku
“siapa?? Si kevin??” tanyaku memastikan
“dari tadi kevin liatin kamu terus tauuu... masak kamu gak ngerasa sih...” goda lisa
“ambil aja buat kamu lis.. aku kan udah punya yayank adit... ” jawabku asal
“ntar nyesel kalo ku ambil?? hahaha” lisa terus menggodaku
“issshh... nyesel dari hongkong... bagiku adit itu udah paling perfect..” jawabku penuh percaya diri

Setelah selesai makan dan ngobrol sama lisa, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Rumah siapa?? Rumah adit pastinya. Setelah adit pergi ke kalimantan, adit yang menyuruhku tinggal dirumahnya. Lagian rumah itu kosong, jadi gak masalah dong. Itung-itung ngirit uang kosan.. hehehe

Dirumah ini, selalu teringat moment saat aku dan adit berada di atap yang sama, ketika aku merawat adit, dan yang paling sweet adalah ketika adit menahanku pergi dan mengungkapkan perasaannya. Rumah ini menjadi saksi bisu awal perjalanan kisah cinta kami.

Selain aku, ada bibi yang tinggal disini.  Bibi yang memasak dan membersihkan rumah ini. Jadi aku seperti tuan putri disini. Semua fasilitas udah disediain sama adit. Mobil jazz merah milik adit pun ada disini, dan aku bebas untuk menggunakannya. Kalo dipikir-pikir nih, aku seperti istri yang ditinggal suami merantau... hehhee

Aku merebahkan tubuhku dan menatap langit-langit rumah ini. Terlintas dibenakku, sedang apa sang pujaan hatiku sekarang? Ishh... mengapa belum sms atau telpon juga... aku bergumam kesal. Ku ambil ponselku dan kulihat tidak ada chat ataupun call dari adit. Aku mencoba memahami, mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya itu.

......
Drrttttt.... drttttt.... drrrtttt....
Suara getaran itu berasala dari ponselku yang ada diatas meja. Dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap, aku membuka ponselku dan menerima telpon dari sosok yang telah kunantikan sejak semalam. Adit menelepon sepagi ini.. gumamku dalam hati
“selamat pagi princesskuu... udah mandi belum ?? pasti baru bangun kan??” ucap adit
“pagi juga my prince... ini kan masih jam setengah 6 pagi... lagipula aku gaada jam kuliah hari ini...” jawabku
“ya gaboleh males gitu donkk princess...  oh iya, maaf kemarin aku sibuk banget, ada meeting sama para investor disini.. terus malemnya ada jamuan makan dan pesta kecil.. maaf ya princess aku gak ngabarin kamu...” ucap adit
“pesta?? Pasti banyak cewenya kan?? Pantesan aja lupa sama yang disini..” sahutku kesal
“yeee... ya kalaupun ada cewenya, aku gabakal berpaling kok princessku... percaya deh... aku disini kan buat masa depan kita sayang.. aku janji gabakal aneh-aneh disini..” adit mencoba meyakinkanku
“yaudah deh... awas ya kalo kamu kecantol prawan kalimantan, kayak judul lagu ituu... ” aku
“hahaha... kamu mah lucu banget.. masak aku disamain kayak lagu koplo itu... iyyaa princess... aku kan udah kecantol sama kamuu... ” adit
“ miss u my prince... ” ucapku manja
“miss u more princess... udah dulu ya, disini udah jam setengah 7, aku mau berangkat kerja dulu. Muachhh...” adit
Belum sempat aku membalasnya, teleponnya terputus. Mungkin karena jaringan yang jelek. Aku merasa sangat bahagia, adit terus menyayangi dan memanjakanku.

Hari ini, aku hanya duduk dirumah dan menghabiskan waktu untuk menonton acara tv. Sebenarnya lisa ngajakin pergi jalan ke mall, tapi aku males kalo gak sama adit. Lebih baik duduk sambil nonton film horor dirumah.

4 bulan kemudian...

Saat ini aku udah menginjak semester 6. Dimana pada saat semester ini kami akan disibukkan dengan PKL, KKN, dan lain sebagainya. Minggu depan kami akan KKN ke tempat yang jauh dari kota. Kebayang kan, gimana kita harus bertahan hidup di lingkungan yang serba terbatas.
“lis, kita sekelompok sama siapa aja??” tanyaku pada lisa
“aku, kamu, dion, sheila  dan kevin. ” jawab lisa sambil menghitung
“kevin?? Si cowo sok perfect itu??” tanyaku heran
“iya, tadinya dia gak sekelompok sama kita, tapi gatau tuh tiba2 pindah dikelompok kita.” Jawab lisa
“kok bisa sih... ishhh.. sial bener nih nasib.” Gumamku kesal
Bukan karna apa-apa, kami juga gak pernah ada masalah. Namun, aku merasa gak nyaman aja bareng kevin, dia memang ganteng tapi sok perfect kalo lagi dikerubutin cewe2. Dan, aku denger-denger dia tuh orangnya nekad kalo punya keinginan. Aneh kan.
“haii riia.. kita satu kelompok kan??” tanya kevin padaku
“hmm...” jawabku acuh
“ntar berangkatnya mau bareng aku gak??” tawar kevin
“emmm boleh sih.. tapi kita berlima berangkatnya. Muat kan mobilmu??” aku tersenyum sinis
“emm... okelah... no problem..” jawab kevin sepertinya terpaksa
Aku tak mempedulikan kevin lagi dan pergi meninggalkannya.

.....
Hari pertama KKN dimulai. Dihari ini, kami hanya berkenalan dengan pak kades desa setempat. Disini jauh dari home stay ataupun hotel. Jadi kami berlima harus ditinggal dirumah yang sudah disediakan oleh pak kades tadi. Rumah itu keliahatannya kosong dan tak terawat. Mungkin sudah lama tak ditinggali. Alhasil, kami juga harus bersih-bersih agar bisa tinggal ditempat tersebut.

“lis.. bantuin dong angkat tempat sampah ini... berat kalo sendirian..” pintaku pada lisa
“males... kotor tauu...” lisa menggeleng dan tertawa melihatku menderita
“isshh.. awas ya...” ancamku pada lisa
Ketika lisa berjalan kearahku, tiba-tiba kevin menyambar tempat sampah sisi lainnya yang sudah aku pegang.
“ayo aku bantuin..” ucap kevin
Aku kaget dan hanya bisa mengangguk. Ternyata dibalik sikap sombongnya, kevin juga punya rasa sosial yang tinggi.
“thankss” ucapku pelan
Kevin hanya mengacungkan jempolnya dan pergi meninggalkanku.

“ehemm... ehemmm...” lisa berdehem
“apaan lo... tadi suruh bantuin gak mau...” ucapku kesal
Lisa hanya meringis, sementara aku pergi untuk membersihkan yang lainnya.
Setelah seharian ini kami bersih-bersih, rasanya badanku pegal dan capek.
Dirumah ini hanya ada 3 kamar.  jadi aku sama lisa tidur satu kamar.
“lis... udah tidur belum??” tanyaku pelan
“kenapa?? ” jawab lisa seraya membalikkan  badan
“ kangen nih sama my prince... mana gak ada sinyal lagi disini..” ucapku kesal
“sukurin.. hahhaa” lisa mengejekku
“ah percuma curhat sama temen yang gak pernah pacaran, kamu kan pasti gatau rasanya kangen berat... ” ejekku balik
“rii.. cintaku hanya untuk calon suamiku kelak.. no pacaran.. no kangen-kangenan..” ucap lisa percaya diri
“iya deh.. terserah..” jawabku putus asa

Pagi ini kami memulai KKN dengan menelusuri sudut desa ke desa. Kami menemukan beberapa anak kecil yang sedang bermain bola dilapangan. Ada teman kami bertugas mengambil gambarnya juga. Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan satu usaha rumahan yang memproduksi telur asin dengan berbagai rasa. Sesuai jurusan kami, manajemen, kami pun melakukan wawancara dengan pemilik usaha tersebut.  Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan penelitian dengan obyek usaha tersebut.

Hari- hari selanjutnya berjalan dengan lancar. Akupun seakan lupa akan kekasihku. My prince adit. Tapi sebelumnya aku sudah memberitahunya dan juga menuliskan alamat tempat aku KKN.

Sudah 7 minggu kami berada disini. Dan seminggu lagi kami akan kembali kuliah seperti biasanya. Malam ini, anak-anak sudah berkumpul didepan dan menyalakan api unggun sambil bermain musik dengan gitar yang dibawa kevin. Aku ingin bergabung dengan yang lain, namun saat pikiranku terfokus pada 1 nama, Adit. Aku terus memikirkannya dan berharap dia baik-baik saja diseberang sana.
“ria... sini gabung sama yang lain..” suara kevin memecah lamunanku
Aku hanya menggeleng kepala dan masih duduk diteras rumah ini.
Kemudian, terlihat kevin berdiri dan berjalan kearahku.
“ngapain disini sendirian?? Kesambet ntar..” kevin menakutiku
“nggak ah... aku disini aja..” jawabku masih tak bergegas
Tiba-tiba kevin malah duduk disampingku.
“yaudah kalo gitu, aku juga disini aja. Siapa tau bisa kesambet berdua..” ucap kevin menggodaku seraya tersenyum tipis
Beberapa menit kami hanya terdiam dan tidak saling menatap. Sepertinya kami sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
“riaa...” panggil kevin
“ya...” jawabku pelan
“kamu gimana sama adit??” tanya kevin
“ya emang kenapa?? Penting banget ya ??” tanyaku berbalik padanya
“ya enggak, tanya aja. ” jawab kevin pelan
Aku hanya terdiam dan tak memberikan jawaban apapun pada kevin

“ria... aku suka sama kamu.” Ucap kevin mengagetkanku
“jangan becanda deh,.. aku udah punya adit.. ” jawabku ketus
“iya aku tau, setidaknya aku udah ngungkapin itu. Aku gak berharap kamu membalasnya kok.” Ucap kevin tenang
“hmm... kevin, mungkin kita gak bisa jadi pacar, tapi kalo kita bisa jadi teman kenapa tidak?? ”ucapku
“iya aku terima itu kok.. tapi satu hal lagi, kalo kamu membutuhkan aku, kapanpun  aku selalu ada untukmu.” Ucap kevin
Aku hanya tersenyum dan tak melanjutkan obrolan tersebut.

Akhirnya kami sudah kembali ke rumah masing-masing. Dengan penuh perasaan bahagia, aku membuka pintu yang tak terkunci itu.
“riiaa...” suara itu suara adit.
Kapan dia kembali? Kenapa gak ngasih kabar?? Aku masih tercengang dan tak menjawab adit.
Namun kali ini adit tak sendirian, dia bersama wanita yang lebih tua sepertinya.
“aditt...” jawabku pelan
“kamu udah kembali??” tanya adit kebingungan
“iya.. siapa dia??” tanyaku  sambil melirik  kearah wanita itu
“ini... iniiii atasanku, namanya buuu Risma. ” jawab adit terbata-bata
Akupun naik keatas dan menuju kamarku. Namun kali ini kamarku berbeda. Kulihat ada barang-barang milik orang lain disini. Kubuka lemari pakaianku, dan benar ada baju milik orang lain disini. Aku berlari keluar dan menghampiri adit yang masih berdiri diruang tengah rumah ini.
“barang-barang siapa yang ada dikamarku???” tanyaku keras
“emm... itu... itu milik bu risma. ” jawab adit terbata-bata
“maksud kamu apa nyuruh dia tidur dikamarku??” aku kembali bertanya
“riaa... denger dulu, aku bisa jelasin semuanya... kamu duduk dulu ya..” ucap adit sambil mendudukkanku
“jadi apa??” tanyaku
“ini bu risma, dia adalah tunanganku. Dia tunanganku yang sudah dipersiapkan oleh ayahku. Maafkan aku ria.. aku juga baru tau..” ucap adit
Seketika hidupku serasa hancur. Rasanya seperti diangkat ke langit ketujuh dan kemudian dibanting kebumi dengan kerasnya. Ini kenyataan yang sungguh menyakitkan. Tak terasa air mataku pun mengalir dengan derasnya. Aku tak tau harus berkata apa-apa lagi. Bagiku hidupku sudah hancur, gelap gulita, dan tak ada lagi cahaya dimataku.
“riaa... maafin aku... sebenarnya aku baru diberi tahu ayahku seminggu yang lalu. Maafin aku ria...” ucap adit sedih
Aku tak bicara apapun dan seketika aku kembali kekamar dan mengambil koperku.
“ria.. kamu mau kemana malam-malam begini??” tanya adit
“bukan urusan kami. Terimakasih udah nemenin selama 3 tahun ini” jawabku seraya pergi meninggalkan rumah itu.

Aku terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang yang heran melihatku. Bagaimana tidak?? Mereka pasti berpikir aku telah gila karena menangis tersedu-sedu dijalanan yang ramai ini. Aku melihat ponselku, ternyata ini sudah jam 10 malam, aku bingung harus kemana malam ini. Akhirnya aku menelpon lisa dan minta tolong untuk bisa menginap dirumahnya malam ini.

“kenapa riii?? Ada apa dengan dirimu??” tanya lisa penasaran
“lisa... kamu pasti gak akan pernah ngebayangin hal ini. ”jawabku masih dalam menangis
“iya, kenapa??” tanya lisa
“adit... aditt sudah dijodohkan sama orangtuanya... dan tadi dirumah aku ketemu sama dia dan jodohnya itu. ” jawabku
“kok bisa dijodohkan?? Terus hubungan kamu gimana dong sama adit??”tanya lisa lagi
“hubunganku sama dia??? Entahlah, mungkin udah berakhir semenjak dia mengatakan hal tersebut. ”jawabku
“ya ampun ria... yang sabar ya.. emang bener-bener tuh cowo. Kenapa gak nolak atau gimana kek?? Kan dia udah punya pacar. ” gerutu lisa ikut kesal
“udahlah lis, mungkin emang kita gak jodoh. Mulai sekarang jangan bahas ini lagi, aku mau buka lembaran baru tanpa dia.” Jawabku tenang mencoba meyakinkan diriku sendiri
“kamu harus kuat rii.. masih banyak laki-laki diluar sana. ” ucap lisa menenangkanku
“iya lis.”jawabku pelan

...............
Pagi ini aku berangkat ke kampus bareng lisa. Aku juga sudah berencana kembali ke kosan lamaku sore nanti. Hari yang cerah untuk jiwa yang hancur. Begitulah ungkapan untukku hari ini. Harusnya hari ini adalah hari anniv kita yang ketiga. Kita??? Udah gaada lagi kata “kita” untuk kami berdua. Dia telah memutuskan jalan hidupnya sendiri. Ada satu hal yang masih mengusik pikiranku. Mengapa adit gak nolak untuk dijodohkan?? Satu pertanyaan yang gak akan pernah aku ketahui jawabannya.
Dikampus pun aku tak bisa berkonsentrasi. Ragaku memang ada disini, namun jiwaku melayang-layang memikirkan hal yang terjadi tadi malam. Aku masih tak percaya. Lama-lama bisa gila aku dibuatnya.
“riaa... ayo kita pulang. Mau ngelamun disini sampe kapan??” ucap lisa memecah keheningan
“emmm.. iya..” jawabku lemas
Lisa mengantarku kembali ke kosan lamaku. Ternyata kamar ini belum disewa oleh penghuni baru. Masih sama seperti dulu aku meninggalkannya. Mungkin memang disinilah tempatku.
“makasih lis..” ucapku
“sama-sama. Kalo butuh sesuatu hubungi aku ya. Awas kalo sampe berpikiran bunuh diri. Putus cinta itu biasa.” Ucap lisa sambil tersenyum meninggalkanku

Dulu tempat ini menjadi saksi bisu kebahagiaanku bersama adit. Namun kini seolah tuhan tidak memihakku lagi. Disini aku akan menghabiskan waktuku dengan sejuta luka dan kesedihan. Mengapa takdir sekejam ini padaku? Dulu aku berpikir, takdir seolah memihakku, namun kini itu semua hanya bayangan semu. Aku harus dihadapkan pada kenyataan yang tak ingin ku hadapi untuk kedua kalinya. Dulu bersama zaenal, aku juga harus berpisah karena perselingkuhan. Sekarang, aku dan adit harus berpisah karena perjodohan. Sungguh tragis kisah cintaku. 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Bahkan aku harus mengubur dalam-dalam impianku untuh hidup bersamanya.

Hari terus berlanjut. Seminggu setelah kejadian itu, aku tak banyak bicara. Aku hanya diam dan termenung dimanapun itu. Dikampus aku melamun dan tak menghiraukan dosen bicara apa. Di kosan aku hanya duduk melamun dan tidur. Tak banyak kegiatan yang aku lakukan. Bagaimana dengan adit? Entahlah, semenjak kejadian itu kami tidak pernah lagi berkomunikasi. Dia serasa menghilang ditelan bumi.

Drrrtt.. drrrttt...
Ponselku bergetar. Entah siapa yang malam-malam begini telpon. Kulihat nomor baru.
“halo... siapa ya??” tanyaku pelan
“ria.. ini aku kevin..” jawab seseorang yang ternyata kevin
“ohh... ada perlu apa??” tanyaku acuh
“gaada perlu sih... Cuma pengen aja telpon kamu.. hehe” terdengar kevin tertawa diseberang sana
“aku lagi gak mood becanda ah... kalo gaada penting aku matiin ya. ” jawabku sinis
“ehh tunggu dulu.. aku Cuma mau tanya, kamu kenapa kok akhir-akhir ini jadi murung? Kata lisa kamu dan adit udah selesai ya??” tanya kevin
“emmm... ya gitu deh. Udah ah aku gak mau bahas itu lagi. ” jawabku singkat
“ya udah, kamu jangan pernah berpikir sendirian ya, ada aku dan lisa disampingmu. Aku akan selalu ada untukkmu. byeee ” ucap kevin lalu memutuskan telpon.

Aku tak habis pikir, mengapa kevin selalu memperhatikanku? Kenapa dia begitu baik padaku? Apa dia masih punya rasa itu? Seperti yang diucapkan di malam kita KKN kemarin. Entahlah, semua laki-laki pasti begitu. Awalnya aja baik, perhatian, bilang sayang lah , inilah itulah, akhirnya juga ditinggal kan. Semenjak kejadian itu aku menjadi cuek bebek terhadap cowo manapun.

Pagi ini aku ke kampus seperti biasanya. Tiba-tiba saat aku berjalan menuju kelasku, ada sosok yang berjalan disampingku.

“kevin??” langkahku berhenti dan menoleh kearahnya
“ayo jalan.. keburu masuk ntar..” jawab kevin cuek
“ngapain kamu jalan disampingku? Duluan gih...” aku merasa tak nyaman
“aku kan udah bilang semalem, aku akan selalu ada disampingmu. ” jawabnya sambil nyengir
“terserah deh.” Aku masih saja acuh dan terus berjalan
Sampai dikelas, aku duduk dibangku biasanya. Aku memilih untuk duduk di pojokan kelas yang dekat dengan jendela. Lagi-lagi kevin mengikutiku. Dia juga duduk disampingku. Apa-apaan coba?? Aku merasa kesal dengan kevin hari ini. Namun aku hanya diam dan mengikuti kelas pada hari ini dengan santai.
“ria... kita mampir ke cafe biasanya yuk... kangen nih.. lama gak kesitu..” ucap lisa ketika aku selesai mengemasi barangku
“males ah.. aku mau pulang aja. ” jawabku singkat.
“ayolahh... plisss... ya ya ya...??” lisa memelas
“hmmm... okelah..” aku tak tega melihatnya
Sampai di cafe biasa kita nongkrong, seperti biasa aku hanya memesan hot cokelat favoritku. Kali ini aku tak memesan makanan, akhir-akhir ini aku tak nafsu makan. Sehari paling hanya 2 kali bahkan juga kadang Cuma sekali.
“ria.. kamu gak pesen makanan??” tanya lisa
“aku masih kenyang.” Jawabku asal
“beneran??” tanya lisa lagi
Aku hanya mengangguk

Sebenernya aku lapar, namun aku tak nafsu makan disini. Dulu aku pernah mengajak adit kesini dan makan berdua. Teringat kembali kenangan saat bersamanya. Seperti disambar petir, apa yang aku pikirkan saat ini ternyata ada didepan mataku. Kulihat adit dan risma masuk ke cafe tempat kami berada. Aku langsung membelalakkan mataku. Apa benar yang aku lihat ini?? Apa ini mimpi??? Tapii... ini memang nyata, bukan mimpi lagi.
“adit..” gumamku pelan saat melihatnya masuk kedalam cafe
“siapa??” tanya lisa seraya melihat arah tatapanku.
“riaaa...” adit juga kaget melihatku
Beberapa detik kami bertatapan dan terdiam satu sama lain. Tiba-tiba risma menarik lengan adit dan berjalan menuju meja yang ada dipojokan cafe.
Aku masih termenung seakan tak percaya  akan hal ini.
“rii...” panggil lisa
Aku tersentak dan kembali normal lagi.
“kamu gapapa kan??” lisa mengkhawatirkanku
Aku hanya mengangguk
“apa kita pergi aja dari sini??” lisa menawarkanku
“gausah lis, kita udah pesen makanan kan. Sayang kalo kita buang.” Jawabku tenang
Akhirnya aku dan lisa menikmati makanan dan cuek akan keberadaan adit disana.
Setelah selesai makan, aku dan lisa pergi dari cafe tersebut. Kulihat adit masih ada didalam cafe. Namun aku seolah tak percaya, dua kali aku dihadapkan pada kondisi yang sama. Dulu di cafe dekat lawang sewu, aku bertemu zaenal dan wanitanya, sekarang aku bertemu adit dan juga wanitanya. Apa tuhan sudah merencanakan ini sebelumnya?? Hah... aku kesal dibuatnya.

Malam ini malam minggu, biasanya kalau malam minggu aku dan adit menghabiskan waktu bersama dialun-alun kota ini. Teringat kembali kenangan itu. Ahh.. mengapa begitu banyak kenangan bersamanya?? Disini aku hanya melamun dan melihat bintang diatas sana. Aku berpikir, mengapa bintang terus bersinar meskipun terkadang dia hanya sendirian? Mengapa bintang mau berada tempat yang gelap dan meneranginya? Mengapa?? Pikiranku mulai kacau dengan sejuta pertanyaan yang tidak penting. Tiba-tiba terdengar suara mobil parkir didepan kosanku. Mobil warna hitam itu berhenti tepat didepan kosanku. Ada seseorang  yang keluar dari mobil itu. Sepertinya aku kenal. Kevin... gumamku dalam hati.
“dingin gini kenapa duduk diluar??” suara itu menuju kearahku
“seneng aja disini. ” jawabku asal
“aku kesepian. Boleh kan aku kesini??” ucap kevin seraya duduk dikursi yang ada disampingku
“kalo aku bilang gak boleh, terus kamu mau pulang?? Toh kamu udah ada disini baru minta ijin. Dasar aneh. ” jawabku sinis
“hehe.. galak bener sih... kalo gak boleh aku juga akan tetap disini,.. ” jawabnya sambil nyengir kuda
Sejenak kami berdua hanya terdiam. Tak keluar sepatahkatapun dari mulut kami. Aku juga bingung harus ngobrol apa sama kevin.
“ehemm...” kevin berdehem
Aku menoleh kearah arah kevin dan menatapnya. Namun dia hanya tersenyum dan terus menatapku.
“ria... ”
“hemm....”
“kamu pesek ya... hahaha” kevin tersenyum puas menggodaku
“biarin ahh... bodo amat..” jawabku kesal
“yee...  gitu aja ngambek.. abis dari tadi diem aja sih.. aku kan bukan patung disini. Ajakin ngobrol kek... ” ucap kevin
“salah sendiri kesini... aku kan lagi puasa ngomong..” jawabku sinis
Kevin hanya tersenyum. Dan suasana menjadi tenang lagi.
Setelah lebih dari 1 jam disini, akhirnya kevin pamit pulang. Tak banyak yang kami bicarakan. Sepertinya kevin juga sudah kehabisan akal untuk bisa mengobrol denganku. Akupun kembali masuk dan tidur didalam.

Minggu
Biasanya hari minggu digunakan anak muda untuk bersenang-senang. Dulu aku juga begitu, kini hanya bisa mengingat semua kenangan itu. Pagi ini sungguh cerah. Entah mengapa aku ingin sekali menikmati udara pagi dengan lari disekitar kompleks. Kami juga sering berlari bersama dipagi hari setiap akhir pekan. Lagi-lagi selalu teringat tentang dirinya, mengapa selalu ada kenangan disetiap langkahku. Seperti ada bayangan yang selalu mengikutiku. Segera kutepis semua ingatanku tentangnya. Aku harus bisa move on. Harus.!!
Sambil terus berlari mengelilingi kompleks, aku berpikir bisakah aku hidup normal kembali. Kembali pada ria yang selalu happy, selalu bahagia dan ceria. Bukan ria yang sekarang ini, murung dan pendiam. Aku pernah mengalami ini sebelumnya, mengapa tidak bisa? Satu-satunya yang bisa buatku melupakannya adalah mencari sosok baru yang bisa membuatku nyaman.
Saat tengah asik berlari dengan memikirkan sejuta pertanyaan untuk diriku sendiri, aku berhenti sejenak untuk duduk dipinggiran jalan kompleks ini. Mengatur nafas dan mulai menghirup segarnya udara pagi ini. Hari ini mood ku sungguh bagus. Aku jadi ingin pergi ke pantai. Namun sama siapa aku akan pergi? Kenapa tiba-tiba aku berpikir untuk pergi bersama kevin? Dari semalam kevin terus berada diotakku, sepertinya dia terjebak dan tidak dapat keluar diotakku. Kemudian aku berlari menuju kosan dan segera mewujudkan keinginanku.
Kubuka ponselku dengan penuh semangat. Kulihat ada 1 sms dari nomor yang akhir-akhir ini sering menghubungiku, siapa lagi kalau bukan kevin.
“pagii miss judes... jangan lupa bahagia ya... ”
Apa-apaan miss judes? Emang aku judes apa? Apa gara-gara semalam aku galak sama dia? Ihh.. nyebelin tau gak... aku jadi males mau ngajakin pergi ke pantai sama dia.
“miss judes?? Enak aja ganti-ganti nama orang. ” sms balasanku
Tak berselang lama ada sms lagi dari kevin.
“tuh kan marah. Apa coba namanya kalo bukan judes? Makanya dong jangan marah mulu, cepet keriput ntar gak laku lagi.. hahaha”
Aku membaca sms dari kevin membuat emosi meledak-ledak. Apa-apaan coba dia ngatain aku keriput?? Ihh... gajadi deh ngajakin pergi. Udah ilfeel pagi-pagi.
Aku membuang ponselku dikasur, aku tak membalas lagi smsnya. Kurebahkan tubuhku dan menarik nafas panjang.
“enaknya ngapain ya..” gumamku sendiri
Terdengar ponselku berdering. Ternyata kevin menelponku.
“ya hallo... ”
“kenapa??”
“enggak .”
“yaudah ya aku mau mandi. Aku sibuk hari ini.”
Setelah telepon terputus, aku menghela nafas panjang lagi. Ternyata kevin menelponku karena aku tidak membalas smsnya lagi. Dia juga bertanya apakah ku marah sama dia? Aku bahkan tidak mempedulikan kevin tadi. Hanya menjawab dengan jawaban singkat dan terdengar sangat cuek.
Akhirnya hari ini aku memutuskan untuk bersantai dikos saja.

Beberapa minggu kemudian
Sudah 3 minggu ini semenjak kevin ke kosanku, aku tidak lagi bertemu dengannya dikampus atau dimanapun.  Rasanya sepi, aku tidak lagi bertemu dengannya, teman-teman yang lain juga tidak melihatnya. Aku berpikir untuk menghubunginya hari ini.
“lis... kevin kemana ya kok dia gak pernah kekampus ??” tanyaku pada lisa
“gatau deh... sejak kapan sih kamu peduli sama kevin?” tanya lisa mencurigaiku
“yeee... kan Cuma nanya... aku jadi khawatir deh lis.. kamu tau rumahnya gak??” tanyaku
“emmm... aku tau sih komplek rumahnya dia, tapi gatau rumahnya yang mana.” Jawab lisa serius
“kita kerumahnya bareng yukk... firasatku gak enak.. ” ucapku pelan
“boleh.. ayo sekarang kita pergi.” Ucap lisa
Aku dan lisa pun langsung bergegas menuju rumahnya kevin. Sampai di kompleks perumahan kevin, kami bertanya pada satpam yang kebetulan lewat. Kamipun mendapatkan alamat yang kami cari.
Sampai didepan rumah warna hijau terang ini, aku dan lisa turun dari mobil. Rumah ini begitu besar. Dihalaman depan juga ada taman kecil yang indah. Kulihat mobil kevin terparkir digarasi rumahnya. Kuberanikan diri untuk masuk dan menekan bel rumah ini.
“permisi...”
“permisii...”
Tak lama pintu didepanku terbuka. Kulihat sosok wanita paruh baya agak gemuk berada didepanku.
“cari siapa ya mbak??” tanya wanita itu
“apa ini rumahnya kevin, kami teman kuliahnya kevin.” Jawabku sopan
Kulihat wanita itu sedikit terkejut seperti ada yang disembunyikan dariku.
“emm... anu... silahkan masuk dulu non. ” ucapnya gelagapan
Kami berdua pun masuk dan duduk diruang tengah. Terlihat rumah ini sepi sekali. Dimana kevin?? Orangtuanya juga gak terlihat. Banyak pertanyaan muncul diotakku
Kemudian wanita yang tadi membukakan pintu muncul kembali dan membawa minuman untuk kami.
“silahkan diminum non..” ucap wanita itu ramah
“makasih biikk...” jawabku tak kalah ramah
“emm biikk... kevin dimana ya? Kok gak ada orang dirumah ini? Orangtuanya juga gak kelihatan dari tadi. ” tanyaku penasaran
“emmm anu non.. den kevin, tuan dan nyonya sedang pergi ke singapura... ” ucap wanita itu dengan penuh kesedihan
“berlibur ya biikk??” sahut lisa
Bibikk menggeleng. “den kevin sedang menjalani operasi non..” jawab bibik dan tiba-tiba air matanya menetes
“operasi?? Operasi apa bikk??” tanyaku penasaran
“anu non.. den kevin mengalami gagal ginjal.. dan sudah 2 minggu lebih den kevin berada disingapura. ” jawabnya
“gagal ginjal?? ” gumamku pelan
“ya allah bikk... penyakit separah itu kenapa dia gak pernah nunjukin kalo dia sakit??” lisa bertanya dengan mata berkaca-kaca
“den kevin memang dari dulu orangnya selalu ceria, ketika divonis dokterpun dia tidak pernah menunjukkan penyakitnya. Dia sering bercerita pada bibikk, kalau dia tidak mau teman-temannya tau dan menjadi sedih.” Jelas wanita itu
Akhirnya kami bertiga pun saling meneteskan air mata.
“kira-kira kapan kevin pulang biik??” tanyaku
“kata tuan kemarin den kevin boleh pulang dalam 3 hari kedepan” jawabnya
“biikk... makasih ya atas infonya.. kami pamit dulu, kami akan kemari lagi kalau kevin udah pulang. Permisi bikk..” ucapku seraya bersalaman kepada bibikk
Diperjalanan, kami berdua hanya terdiam dan tak habis pikir mengapa kevin menyembunyikan hal ini kepada kami dan teman lainnya. Penyakit separah ini dan dia masih bisa tersenyum dan menghiburku? Apa dia sudah gila?? Gumamku dalam hati.

Sampai dikosan, akupun terus memikirkan kevin. Aku tak bisa sedetikpun untuk tidak memikirkan dia. Mengapa dia terus menyemangatiku dan berkata akan terus disampingku sementara dia sendiri yang butuh support dari orang terdekatnya. Aku menyesali ketika dimalam kevin kesini dan ingin mengobrol denganku, aku tidak pernah sedikitpun tersenyum manis padanya. Aku takut jika itu adalah malam terakhir aku bertemu dengannya. Segala penyesalan ada dibenakku. Aku selalu mengingat perkataannya. Dia akan terus berada disampingku. Dia juga akan selalu ada ketika aku membutuhkannya. Namun dimana dia sekarang? Dia sedang membutuhkan semangat dari orang lain, dia sedang berjuang untuk hidupnya sendiri. Dan aku??? Aku hanya bisa menyesali perbuatanku padanya dan berdoa dari sini.

Beberapa hari kemudian
Sudah 4 hari setelah hari itu. Hari dimana kami mengetahui kebenaran tentang kevin. Dan hari ini aku memutuskan untuk kerumah kevin. Lisa sebenarnya ingin ikut denganku, namun ada salah satu sepupunya yang menikah hari ini. Jadi lisa tak bisa menemaniku. Dengan penuh semangat aku pergi kerumah kevin. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku berada. Aku memutuskan untuk naik ojek menuju rumah kevin. Sampai dirumahnya, aku segera menekan bel dan tidak sabar untuk bertemu kevin.
“eh non yang kemarin... ” sapa bibik itu lagi
“kevinnya ada bikk??” tanyaku pelan
“iya non.. mari saya antar..” jawab bibik sambil memanduku menuju kamar kevin
Tok tok tok..
“permisi den... ada tamu buat den kevin.” Ucap bibi itu sambil membuka sedikit pintu kamar kevin
“siapa??” ucap kevin lemas
Kemudian aku menampakkan wajahku dan berjalan masuk menuju tempat dimana kevin sedang berbaring. Terlihat jelas mata kevin yang melotot kearahku, sepertinya dia terkejut.
“riii-riiaaa” ucapnya pelan
Kevin mencoba untuk bangun, namun aku menahannya
“sssttt.. udah kamu baring aja.. ” ucapku senyum
“kamu kok ada disini??” tanyanya heran
“udah.. aku udah tau semuanya dari bibikk.. kamu kok tega sih gak ngasih tau aku soal penyakit kamu??” tanyaku kesal
“aku... akuu tidak mau kamu tau..” jawab kevin pelan
“untung aja aku kemarin kesini dan tanya sama bibik... lain kali kalo kamu ada apa-apa bilang dong sama aku. Kita kan teman.” Gerutuku
Kevin hanya tersenyum dan terus menatapku
“orangtua kamu dimana vin??” tanyaku
“mereka udah pergi tadi.. orangtuaku selalu sibuk dengan pekerjaannya” jawab kevin
“ohhh...” aku mengangguk-angguk
“kamu udah makan belum??” tanyaku lagi
Kevin menggeleng
“tunggu bentar ya, aku ambilin makanan buat kamu. ” aku

Aku turun kebawah dan menuju dapur rumah ini, disitu aku melihat bibik yang sedang membersihkan dapur tsb.
“bikk... buatin bubur dong buat kevin..” pintaku dengan senyum ramah
“oke non.. tapi non siapa kok perhatian sekali sama den kevin. Pacarnya ya??? Hayo ngaku...” bibik itu menggodaku
“enggak bik... aku temannya kevin. Namaku ria. ” jawabku
“ria???” bibik terkejut ketika mendengar namaku
“iya biikk... ria. Kenapa emangnya??” tanyaku heran
“den kevin pernah cerita sama bibik, kalau den kevin suka sama seseorang yang namanya Ria. Katanya non ria itu galak banget kalo sama den kevin. ” jawab bibik sambil terus memasak bubur
“kevin ngomong gitu bik??”ucapku kesal
“iya non... den kevin juga bilang kalau non ria itu satu-satunya perempuan yang buat den kevin tergila-gila. Bahkan den kevin sampai kehabisan akal buat bisa bareng terus dan ngobrol sama non ria.” Bibi menjelaskan dengan penuh semangat
“ah bibik jangan gitu ahh... aku sama kevin Cuma teman kok bikk..” jawabku tersipu malu
Beberapa menit kemudian buburnya sudah siap. Aku pun membawa nampan yang berisi bubuk dan air putih.
“maaf ya lama... abisnya bibik ngajak ngobrol mulu..” ucapku ketika sampai dikamar kevin.
“gosip apaan kamu sama bibikk??” tanya kevin
“biasa.. gosipin artis yang tiap hari kawin cerai mulu.. heheehe” jawabku asal
“dasar cewe sukanya gosip.” Gerutu kevin
“yaudah.. nih makan dulu. Kamu bisa makan sendiri kan??” ucapku
“emm... maunya sih disuapin... kapan lagi disuapin sama miss judes. hehe” ucap kevin sambil tertawa
“yeee... yaudah mumpung aku lagi baik hati nih... ” jawabku tersenyum manis
Akhirnya aku menyuapi kevin sampai dia selesai makan. Mata kami saling bertatapan dan aku menjadi canggung ketika menatapnya. Beberapa menit itu kulalui dengan perasaan yang berdebar. Jantungku rasanya berdetak kencang tanpa bisa dikendalikan lagi.
“riaa...” kevin memanggilku
“ada apa??” jawabku
“makasih ya... akhirnya aku bisa sedekat ini sama kamu. Makasih udah mau ngerawat aku.. makasih udah mau nyuapin aku.. makasih ria..” ucap kevin pelan
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“sekarang kamu minum obat terus istirahat ya...” ucapku
Setelah beberapa menit, kevin akhirnya tertidur. Mungkin efek dari obat yang diminumnya tadi.
Aku bergegas untuk pulang. Sebelum aku keluar dari kamar kevin, aku mengecup keningnya dan berkata “cepet sembuh kevin..”.
Entah kevin mendengar atau tidak. Akupun pamit pada bibik dan pulang.

Keesokan harinya.
Hari ini setelah pulang dari kampus aku langsung pulang. Rasanya tubuhku capek sekali. Aku tadinya ingin mampir kerumah kevin, namun aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat saja. Aku terus memikirkan keadaan kevin, bagaimana keadaannya? Apa dia sudah makan dan minum obat? Aku terus memikirkannya.
Aku memegang ponselku dan ingin menanyakan kabarnya. Namun, aku mengurungkan niatku. Mungkin kevin sedang beristirahat. Pikirku dalam hati.
Malam ini aku hanya duduk dikursi depan dan melihat bintang-bintang. Teringat kembali beberapa minggu lalu saat kevin duduk disampingku. Saat itu aku begitu galak dan cuek padanya. Tiba-tiba terlintas dibenakku untuk menghubunginya. Tapii... aku kan cewe?? Gengsi dong kalau aku yang nelpon dia duluan. Lagi-lagi aku mengurungkan niatku.

Seminggu kemudian
Tak terasa sudah seminggu berlalu  semenjak aku menjenguk kevin. Pagi ini aku ada jam kuliah. Kupercepat langkahku menuju kelas. Aku terperanjat kaget ketika melihat kevin sudah ada dikelas dan duduk disana. Akupun berjalan perlahan menuju kursiku seperti biasa yang berada dipojok. Entah kenapa, aku senang sekali melihat kevin sudah masuk kuliah lagi. Hampir 1 bulan dia absen dan mengambil cuti. Akhirnya dia kembali lagi..

Jam pelajaran pun berakhir. Aku segera mengemasi barangku dan bergegas keluar.
“ria..” seseorang memanggilku
Aku menghentikan langkahku dan menoleh kebelakang ,  kulihat kevin berdiri dibelakangku.
“ada apa vin??” tanyaku singkat
“gapapa kok..” jawabnya senyum
“aku pulang dulu ya.” Ucapku segera berbalik
Sebenarnya aku ingin berbincang lebih lama lagi dengannya, namun aku terlalu naif untuk itu. Aku tidak bisa menahan rasa gengsiku.
Setelah beberapa langkah meninggalkan kevin, tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan langkahku. Aku mengenalnya, bahkan sangat. Dia adalah orang yang dulu membuatku bagai princess, Adit.
“ adittt???” aku terkejut
“riaa... aku mau ngomong sebentar denganmu. ” ucap adit singkat
Tanpa pikir panjang, aku menuruti permintaan adit dan ikut bersamanya. Kami berdua sekarang berada dimobil adit.
“mau ngomong apa?? ” tanyaku singkat
“ria... aku mau minta maaf sama kamu. Aku menyesal karena memilih wanita itu. Aku minta maaf ria..” ucap adit memelas
“aku udah maafin kamu kok, aku juga udah lupain semuanya.” Jawabku tenang
“riaa... aku sangat sayang sama kamu... aku sangat mencintaimu.. aku gak mau menikah dengan wanita selain kamu... kembalilah padaku riaa...” pinta adit dengan memegang kedua tanganku
“dit,, kamu adalah bagian hidupku, tapii... seandainya kamu dulu tidak melepasku dan tidak memilih wanita itu, mungkin saat ini aku masih bersamamu.. tapii kamu lebih memilih wanita itu dan melepasku.”ucapku pelan dan air mata membanjiriku
“aku menyesal ria... aku sadar, denganmu aku bahagia, hanya denganmu... kamu satu-satunya yang aku sayangii... aku gak akan melepaskanmu lagi... aku akan menentang orangtuaku demi kamu ria... aku akan menentang perjodohan ini.. wanita itu sangat posesif dan terobsesi denganku,.. aku gak akan bisa hidup bersamanya. ” adit mencoba menjelaskan semuanya
“kamu akan menentang orangtuamu?? Maksudmu gimana??” tanyaku heran
“iya... aku akan pergi jauh dan membawamu pergi untuk hidup bersamaku. Kita bisa hidup bersama ria... aku mohon...” adit memelas
“maksud kamu, kamu mau ngajak kawin lari??” aku masih bingung
Adit mengangguk
“kita bisa hidup jauh dari sinii... kita akan bahagia ria.. percayalah padaku. Aku akan bekerja keras dan memulai hidup baru bersamamu. ” adit mencoba meyakinkanku
“dit, aku gak bisa. Bagiku orangtua adalah segalanya. Aku tidak bisa hidup tanpa restu dan doa orangtua. Aku gak mau dit...” jawabku pelan
“tapi ria... satu-satunya cara agar kita bisa bersama adalah pergi dari sini. Seminggu lagi aku akan dinikahkan, aku gak bisa menikah dengannya. Tapi orangtuaku terus memaksa. Keluargaku punya utang budi terhadap keluarganya risma. Aku harus menikah dengan risma untuk membalas kebaikan keluarganya. ” adit
“maaf dit, aku gak bisa dan aku gak mau. Semua cintamu sudah ku kubur dalam-dalam bersama kenangan kita. Aku sudah melupakanmu” ucapku
Akupun keluar dari mobil adit. Aku tak bisa menahan air mata yang terus mengalir. Aku yakin, aku sudah membuat keputusan yang tepat. Sambil terus berjalan, aku mulai membersihkan wajahku dan mengusap air mataku. Hari ini adalah hari yang sulit bagiku.

.............
Jam ditanganku menunjukkan pukul 2 siang. Waktunya aku pulang dan beristirahat. Setelah kejadian kemarin, aku kembali menjadi murung dan pendiam.
“ria... kita pulang bareng yuk..” ucap kevin menghampiriku
“gak deh vin... aku pulang sendiri aja. Lagian kita gak satu arah kan.” Jawabku pelan
“kamu kenapa rii... apa ini gara-gara kemarin kamu ketemu sama adit?” kevin
“kamu tau dari mana??” tanyaku heran
“aku kan selalu ada disampingmu, jadi aku tau semuanya.. hehehe ” kevin tertawa
“terserah deh.. aku pulang dulu. Aku capek” jawabku singkat seraya meninggalkan kevin

Aku memang masih kepikiran soal adit. Namun saat ini aku butuh waktu sendiri dan tidak mau diganggu.
Sampai di kosan.. aku beristirahat dan masih memikirkan apa yang dikatakan adit kemarin siang. Kawin lari?? Aku memang masih mencintainya, namun aku juga tidak mungkin untuk pergi bersama dia, apalagi kawin lari. Aku menyayangi orangtuaku, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Karena orangtuaku hanya punya aku seorang, aku anak tunggal. Rasa rindu kepada orangtuaku tiba-tiba menyelimutiku. Aku ingin pulang, aku ingin memeluk mereka dengan erat. Hampir 5 bulan aku belum pulang sekalipun. Biasanya aku pulang 2 bulan sekali. Tapii... ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Aku akan pulang sendirian?? Apa yang akan dikatakan orangtuaku? Dimana adit?? Selama ini orangtuaku mempercayakanku disini dengan adit. Lalu aku pulang dengan membawa kabar yang mengejutkan ini? Bagaimana respon orangtuaku? Tidak.. tidak... aku takkan pulang sendirian.. atau aku tak pulang sekalipun. Tapii... aku rindu kepada mereka, lagipula aku kan anak mereka satu-satunya, mereka pasti akan mengerti tentang keadaanku sekarang. Aku yang menjalani hubungan, mereka pasti akan mengerti anaknya ini. Kevin??? Kenapa aku gak pergi sama kevin aja? Tapi apa yang harus aku katakan? Teman? Pacar? Pasti mereka akan bertanya seperti itu padaku. Isshhh.... sungguh menyebalkan. Mengapa harus mencari cara dan alasan yang rumit untuk bisa pulang dan bertemu orangtuaku? Hmm... bagaimanapun keadaanku sekarang, aku tetap anak mereka. Aku akan pulang. Sendirian atau bersama kevin kalau dia mau.

Setelah berpikir keras untuk memutuskan pulang ke kampung, aku akan menelpon kevin sekarang juga.
“hallo vin..” ucapku
“iya rii.. ada apa??” ucap kevin diseberang sana
“emm.. vinn.. boleh gak aku minta tolong sama kamu..??” tanyaku pelan
“iya apaan? ” tanya kevin singkat
“emmm... aku pengen pulang ke kampung... kamu bisa gak nemenin aku? Aku gak biasa pulang sendiri.” Jelasku
“pulang ke pati?? Kapan??”tanya kevin
“emm.. kalo bisa sih besok.. aku udah lama gak pulang soalnya..” aku
“oke deh. Besok pagi aku jemput jam 9 pagi.” Ucap kevin bersemangat
“makasihh vin...” aku
“sama-sama ” kevin

Aku lega setelah menelpon kevin yang mau menemaniku pulang. Dia seperti malaikat penolongku saja. Malaikat yang selalu berada disampingku. Malaikat yang selalu ada disaat aku membutuhkannya. Terimakasih tuhan, setidaknya engkau memberiku teman atau sahabat yang begitu baik padaku.

..........

Pagi jam 8.30 aku sudah bersiap dan berdandan ala kadarnya. 30 menit lagi kevin akan menjemputku. Aku pun menunggunya dengan penuh semangat. Pas seperti jam yang telah dijanjikan padaku, kevin pun datang dengan mobil hitamnya. Kali ini kevin berpenampilan berbeda. Dia memakai kemeja rapi dan tidak memakai kaos oblong atau jaket seperti biasanya. Namun dia tetap saja keren dan menawan. Hehee
“udah siapp??” tanya kevin
Aku pun mengangguk bersemangat
Kami pun berangkat menuju rumah orangtuaku. Saat perjalanan kami memang terlihat canggung awalnya, namun karena cuaca dan moodku yang lagi bagus, kami pun banyak bercanda ria dan saling tertawa.

“ria.. kalo orangtuamu tanya aku siapa kamu, aku jawab apa??” tanya kevin
“emm.. jawab aja kamu majikan aku... hahaha” jawabku asal
“haha... gila kamu... mana ada majikan mau nganterin anak buahnya pulang kampung..” kevin
“ada kok.. itu kamu... hahaha” jawabku masih melucu
“ria.. aku serius nih... aku jawab apa ntar? Teman atau pacar?” tanya kevin serius
“emm.. terserah kamu deh. Mau jawab teman atau pacar sama aja. Yang penting kamu bisa ngendaliin situasi. Orangtuaku suka nanya aneh2.” Jawabku
“emang gapapa kalo aku jawab pacar kamu? ” tanya kevin lagi
“kenapa tidak.. toh kamu juga jomblo kan. Kita pura-pura aja pacaran. Gampang kan.” Jawabku asal
 Kevin mengangguk dan itu mengisyaratkan kalo dia paham. Toh juga aku pulang paling 2 hari doang.

Setelah 3 jam berada diperjalanan, akhirnya kami sampai dirumah orangtuaku.
“assalamualaikum ” ucapku
“assalamualaikum” ucapku lagii.
“wa- waalaikum salam.. riaa anakku.. kamu apa kabar nak?? Kok lama baru pulang??” mama tersenyum bahagia
“ria sibuk mahh.. tugas kuliah banyak.. ini aja baru ada waktu mah..” jawabku ngeles
“lha ini siapa?? Terus adit mana??”mama
“emm... ini pacarku mah.. kevin.. adit udah nikah sama orang lain.” Jawabku
“ya tuhannn.....  ” ibuku
“halo tante.. saya kevin ” kevin seraya mengulurkan tangannya
“iya ayo mari duduk nak... mamah buatin minum dulu ya..” mama
Akhirnya kami berdua duduk dan mengobrol dirumahku ini. Ini pertama kalinya kevin kesini.
“vin.. ikut aku yuk.. aku tunjukin sesuatu.” Aku
“apaan  ri??” kevin
“udah ikut aja.” Jawabku
Akhirnya kevin mengikutiku berjalan kaki. Aku mau menunjukkan sungai yang ada didekat rumahku.
“liat deh disana vin.. dulu aku sering mandi disungai ini waktu kecil.” Aku
“lha terus sekarang??” kevin
“sekarang gimana maksudnya??” aku
“ya sekarang kok gak mandi disungai.. aku kan juga mau ikutan.. kita mandi disungai bareng.. hahaha” kevin lagi-lagi menggodaku
“yeee.. dasar otak porno. ” jawabku seraya berlari meninggalkannya menuju rumah
“tungguin aku rii... gitu aja ngambek..  aku kan becanda..” teriak kevin yang berlari mengejarku

Sampai dirumah, aku menuju kamarku. Dan kevin juga menuju kamar tamu yang sudah disediakan oleh mamaku. Kamar kamipun berdekatan.

Tak terasa malam tiba. Kami makan malam bersama dengan orangtuaku.
“nak kevin sudah berapa lama pacaran sama ria??” tanya mamaku
“emm... baru sebulan ini tante...” jawab kevin gelagapan
“mamah ah kenapa tanya begituan coba..” aku menyela pembicaraan mereka dan mereka hanya tertawa geli melihatku.
“emm.. vin kita keluar bentar yukk...” aku sembari menarik tangan kevin keluar
“ada apa ri??” tanya kevin penasaran
“gapapa.. Cuma mau keluar dari situasi itu aja... ” jawabku singkat
“haha... kenapa? Orangtuanmu ramah kok.. tapii kepo juga.. pengen tau aja urusan anak muda..” jawab kevin tertawa lepas
“awas aja kalo kamu ngomong macam-macam.. aku masukin ke jurang deket sini..” ancamku pada kevin
Namun kevin hanya tertawa geli melihatku.

Pagi tiba. Aku sudah berada di dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Tiba-tiba kevin keluar dan menghampiriku.
“pagi tante... ciee anak perawan tumben pagi-pagi udah didapur.hehe” kevin menggodaku
“pagi nakk kevin... duduk saja disana kami akan menyiapkan sarapan untukmu.” Mamaku ramah
“jangan gitu tante.. aku kan bukan orang asing disini..” kevin
“yaudah deh sana duduk aja. Cowo mau bantuin apa emangnya??” sahutku
“udah-udah... yuk kita sarapan.. ” mama
Kamipun bertiga duduk bersama dan makan.
“ngomong-ngomong kok om gak ikut sarapan tante??” kevin bertanya
“emm.. om tadi pagi berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada tamu penting hari ini...” mamaku
“ohh...” kevin
“mah, habis makan aku mau keliling desa sini sama kevin.. ” aku
“terserah kamu saja sayang..” mamaku

Setelah selesai makan aku dan kevin pergi naik mobil. Aku mengajak kevin untuk mencicipi beberapa makanan unik yang ada disini. Kemudian aku juga mengajaknya keliling kota ini. Aku jadi lupa waktu dan ini sudah hampir malam. Kamipun berdua pulang.

“mama.. aku pulang...” aku
“hmm... kebiasaan deh,. Katanya keliling desa.. pasti keliling kota kan?? ”mamaku
“hehe.. ya biasa lah mah.. aku kan lama gak pulang...” aku
“maaf tante.. tadi ria diajakin pulang gamau.. katanya mumpung masih disini..” kevin
“iya nak,tante udah hafal sama sifat anak ini.. yaudah kalian mandi dulu terus makan makan bareng.” Mamaku
“emm.. kami sudah makan malam tadi diluar tadi mahh.... ” aku
“hmmm... yasudah... kalian istirahat aja kalo gitu. ”mama
“mah.. aku besok balik ya.. aku gak bisa lama soalnya ini udah mau ujian semester..”aku
“iya... gagapa.. kamu pulang aja mama udah seneng.” Mamaku kembali tersenyum lembut
“kami permisi dulu tante..” kevin

Setelah seharian ini kami pergi jalan-jalan, rasanya tubuhku capek sekali. Namun aku juga tadi, aku senang saat bersama kevin. Aku jadi melupakan masa sulitku saat bersama adit. Aku benar-benar sudah melupakannya. Yang ada sekarang ini adalah kevin. Dia sangat baik padaku. Dia juga mau menuruti semua permintaanku.

Pagi ini kami sudah siap kembali ke semarang. Walaupun Cuma sebentar, tapi sudah mengobati rasa rinduku pada orangtuaku.
“mah, pa, aku berangkat dulu.. ” pamitku
“belajar yang bener.. jangan nakal disana..” papa
“iya  iya..” aku
“pamit dulu om.. tante.. permisi”kevin

Kamipun berangkat meninggalkan desa itu. Di perjalanan, aku sesekali melirik kevin yang begitu bersemangat menyetir mobil. Dia terlihat sangat senang.
“ada apa liatin aku terus daritadi??” kevin
“eng.. enggakk kok.. siapa juga yang liatin kamu...” aku
“yeee ngaku aja kalii... aku tau kamu liatin aku terus tadii...” kevin
“hehe.. abisnya kamu cengar cengir sendiri dari tadi.. kayak dapet harta karun aja..” aku
“emm.. bisa dibilang begitu sih.. aku seneng, orangtuamu sangat baik padaku.. dia bahkan percaya kalo aku ini pacar anaknya. Mungkin karena aku keren dan tampan kan... ”kevin dengan pd nya
“kepedean banget kamu vin vin... ada ya orang sinting ngaku keren... haha” aku tertawa lepas
“yee... coba aja kamu pasti akan jatuh cinta padaku.” Kevin
Glekkk.... apa yang dia bilang? Jatuh cinta??? Ohhh mengapa dia mengatakan hal itu?? Seketika bibirku membeku dan lidahku kelu. Aku tak bisa berkata lagi. Sampai perjalanan kami selesai, aku pun hanya terdiam dan tak berani menatap kevin lagi.
“makasih vin... aku masuk dulu.” Aku seraya keluar dari mobil kevin. Aku tak berani menatapnya.
Kevin hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin dia menyadari kalo aku sekarang sedang salah tingkah karena kata-katanya tadi. Jatuh cinta? Jatuh cinta? Kata itu yang selalu terngiang diotakku.

Aku membersihkan kamarku yang telah aku tinggalkan 2 hari ini. Setelah semuanya beres, aku duduk diluar dan menanti senja untuk menyapaku. Hari ini sungguh melelahkan.

.....
Kampus
Pagi ini aku sudah berada dikampus. Tidak seperti biasanya, aku berangkat pagi sekali. Padahal kelas dimulai masih satu jam lagi. Aku duduk dibangku taman kampus dan mengeluarkan ponselku beserta earphone. Aku mendengarkan lagu kesukaanku “just give me a reason”. Aku selalu memutarnya hingga aku bosan sendiri. Ada lirik yang sangat menyentuhku
“just give me a reason just a little  bit’s enough, just a second we’re not broken just bent and we can learn to love again.”
Yang artinya beri aku satu alasan saja, sedikit saja cukup, sebentar saja kita tak patah hanya bengkok, dan kita bisa belajar mencintai lagi.
Aku selalu mengingat lirik itu. Dulu, aku pernah memimpikan adit untuk kembali padaku. Aku selalu berpikir kalau dia kan kembali padaku lagi.

Tiba-tiba ada seseorang yang duduk disebelahku.
“kevin??” aku menoleh kesamping
“cieee.. ada yang galau nihh..” kevin
“apaan sih.. ganggu aja..” aku
“pinjem ear nya satu dong..” tiba-tiba kevin menarik earphone yang menempel ditelinga kananku.
Dia mendengarkan lagu dan ikut bernyanyi. Aku jadi merasa canggung. Jarak kami begitu dekat. Kevin menempel padaku. Ya tuhan.. apa ini? Aku tidak mungkin punya perasaan kepada kevin.. tidakkk..
Jantungku berdegup kencang. Sangat kencang. Aku sudah tidak fokus lagi dengan lagu yang aku dengar. Aku hanya berusaha mengatur jantungku supaya kevin tidak melihatku gugup.
Aku melirik jam tanganku, ternyata 10 menit lagi kelas akan dimulai.
“vin.. udah yuk.. kuliah udah mau dimulai. ” aku
Namun kevin masih asik mendengarkan lagu yang aku putar.
“kevin....” aku menepuk lengannya.
“apaan sihh ri... ” kevin terkejut
“udah masuk.. ayo..” aku
Aku berdiri dan meninggalkan ponselku bersama kevin. Aku berjalan menuju kelasku. Kulihat kevin masih duduk dibangku taman.
Sampai dikelas, aku duduk dikursi biasanya. Kelas pun dimulai. Namun aku tidak melihat tanda-tanda kevin. Dimana dia? Apa dia tidak mau ikut kelas ini? Apa dia masih ditaman? Bener-bener aneh.
Sampai kelas berakhir kevin tidak ada. Aku pun keluar dan menuju taman tadi. Benar, dia masih berada disana. Namun kali ini dia sibuk melihat ponselku. Apa yang dia lihat?? Aku pun teringat pada foto. Fotoku bersama adit. Omg... apa yang harus aku lakukan. Aku pun menghampirinya dan merebut ponselku.
“apa yang kamu lakukan dengan ponselku?” teriakku kesal
“riaa... aku hanya melihat fotomu saja. ” kevin
“kamu gak boleh buka privasi orang. Aku benci sama kamu.” Akupun meninggalkan kevin dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin menangis, namun aku malu. Aku benar-benar tidak suka jika barang pribadiku dibuka oleh orang lain. Aku benci.

Akhirnya aku pulang seperti biasanya. Kevin menelponku berkali-kali dan mengirimkan sms minta maaf. Aku tak menghiraukannya.

Keesokan harinya.
Aku sudah berada dikelas seperti biasa. Kevin pun juga ada dikelas. Namun kali ini kami tak saling bicara. Sampai kelas selesai, aku secepat mungkin mengemasi barangku dan bersiap pulang.
“riaa...” aku tak bergeming
“kamu marah sama aku??” kevin
“ria.. jawab aku. Aku ngomong sama kamu.” Kevin terus bicara
Namun aku tak menghiraukannya dan bergegas keluar.
Aku terus berjalan lurus dan tak menoleh kearah kevin. Kudengar dia memanggilku dari kejauhan.
Sampai dikosan, aku hanya merebahkan tubuhku dan tak melakukan apapun. Aku berpikir, apa aku terlalu keras marah pada kevin? Apa aku keterlaluan jika marah padanya? Tidak tidak... dia yang keterlaluan. Aku pantas marah padanya.
Hari berlalu seperti biasa. Aku dan kevin masih tidak saling bicara. Sudah 3 hari aku tak menatapnya ataupun bicara dengannya. Lisa yang menyadari hal ini pun bertanya padaku. Namun aku hanya diam dan tak menceritakan kepadanya.
Malam minggu
Malam ini begitu sepi. Aku yang berada di depan rumah hanya duduk dan melamun. Tiba-tiba ada suara mobil yang berhenti didepan kosanku. Aku tau itu mobil siapa. Dan benar, kevin keluar dari mobil itu. Aku tak ingin melihatnya. Aku pun langsung bergegas masuk kekamarku. Namun saat aku membuka pintu, ada tangan yang menarikku.
“riaaa...”
“kamu kenapa terus menghindariku,?? Aku salah apa??” kevin
Aku masih bungkam.
“ria... maafin aku kalau kemarin aku membuka ponselmu.. aku minta maaf ria.. aku tak bermaksud membuka privasimu..” kevin
“aku udah lupain kok. Pulanglah...” jawabku
“ria... pliss... tolong jangan begini padaku. Aku tak bisa ria... aku tak ingin berjauhan denganmuu,,,, ”kevin
“plisss.. kamu juga harus mengerti aku... aku tak bisa untuk terus dekat denganmu... ”aku
Tak terasa aku pun meneteskan air mata.
“tapi kenapa ria?? Kenapa kamu gak mau dekat denganku?? Aku ingin sekali terus dekat denganmu...” kevin
“karna... karna aku takut jika aku jatuh cinta padamu..... ” aku kelepasan.
Ya tuhan apa yang aku katakan... mengapa aku tak bisa menahan emosiku?? Bodohnya aku..
“apa?? Mengapa kamu harus takut ria?? Sementara aku disini selalu ingin bersamamu, selalu memikirkanmu... ria... jujurlah pada perasaanmu sendiri. Akuilah kalau kamu juga cinta kan sama aku..” kevin
Aku tak bisa berucap lagi. Yang keluar hanya airmata. Aku tau, aku mencintainya. Namun aku tak mau lagi merasakan cinta, aku tak ingin berakhir seperti halnya aku dan adit. Lebih baik aku menutup hati dan perasaanku.
“ria... plisss... jangan bohongi perasaanmu.. aku sayang sama kamu ria... aku cintaaa sama kamu... ” kevin
Aku tak bergeming. Tiba-tiba kevin memelukku. Aku terkejut dan ingin melepaskan pelukannya. Namun tubuhnya begitu kuat. Terdengar jelas degup jantungnya yang saling berkejaran. Sangat kencang.
“ria... pliss terima aku.. aku tau kamu masih trauma dengan kisah cintamu yang dulu.. tapi aku janji, aku gak akan melepaskanmu. Gak akan pernah ria.... aku mohon... terima aku ya...” kevin
“akuu.... aku....” dan akhirnya aku mengangguk
“makasih ria... aku janji dalam keadaan apapun, aku gak akan pernah melepasmu. 3 tahun aku menunggumu.. aku sakit ketika adit yang selalu disampingmu. Aku menantikan moment seperti ini. Aku yang akan selalu disampingmu mulai sekarang. Aku takkan pernah melepaskanmu. Aku janji.” Kevin
Aku pun masih memeluk kevin dan menyandarkan kepalaku didadanya. Aku merasa sangat nyaman.

Terimakasih tuhan... engkau telah mengirimkan malaikat untukku. Semoga dia yang akan menjadi cinta terakhirku. Semoga.

.......................bersambung