Cinta Si nona Chubby Season 2
CINTA...
Terimakasih
tuhan sudah memberiku cinta yang begitu indah...
Cinta
yang membuatku bangkit dari keterpurukan...
Cinta
yang membawaku lebih percaya diri dan cinta yang membawaku serasa disurga...
Sudah
hampir 3 tahun kami bersama-sama. Sampai detik ini, hubungan kami masih
baik-baik saja. Kami bahagia meskipun jarak dan waktu memisahkan kami berdua.
Sekitar
2 bulan yang lalu, adit dipindah tugaskan ke pulau kalimantan. Demi menunjang
karirnya, adit tidak bisa menolak hal itu. Aku tau, ini sulit bagi kami, namun
aku yakin rasa cinta kami yang begitu besar pasti tidak akan membuat jarak
menjadi penghalang.
Dan ada
satu hal lagi yang mengejutkan, kini aku tidak lagi dijuluki si “chubby” karena
sekitar setahun lalu aku memutuskan menjalani program diet. Hasilnya fantastis.
Dari yang 58 kg kini menjadi 47 kg. Menurutku bb tersebut sudah pas untuk
ukuran tubuhku.
Suara
sepatu terdengar menelusuri koridor, banyak mata yang mengarah dan berdecak
kagum. Ya, suara itu berasal dari arahku. Kini aku semakin percaya diri dan tidak
perlu minder ketika berjalan sendirian.
“ciieee..
yang sekarang jadi primadona...” goda lisa sahabatku
“ssstt...
jangan gitu, ntar aku jadi sombong lagi...” sahutku
Kami
berdua sedang berjalan menuju kantin kampus. Kantin yang tidak pernah sepi oleh
pengunjung.
“rii...
liat tuh cowo yang pake jaket biru itu...” lirik lisa dan menyenggol lenganku
“siapa??
Si kevin??” tanyaku memastikan
“dari
tadi kevin liatin kamu terus tauuu... masak kamu gak ngerasa sih...” goda lisa
“ambil
aja buat kamu lis.. aku kan udah punya yayank adit... ” jawabku asal
“ntar
nyesel kalo ku ambil?? hahaha” lisa terus menggodaku
“issshh...
nyesel dari hongkong... bagiku adit itu udah paling perfect..” jawabku penuh
percaya diri
Setelah selesai
makan dan ngobrol sama lisa, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Rumah
siapa?? Rumah adit pastinya. Setelah adit pergi ke kalimantan, adit yang
menyuruhku tinggal dirumahnya. Lagian rumah itu kosong, jadi gak masalah dong.
Itung-itung ngirit uang kosan.. hehehe
Dirumah
ini, selalu teringat moment saat aku dan adit berada di atap yang sama, ketika
aku merawat adit, dan yang paling sweet adalah ketika adit menahanku pergi dan
mengungkapkan perasaannya. Rumah ini menjadi saksi bisu awal perjalanan kisah
cinta kami.
Selain
aku, ada bibi yang tinggal disini. Bibi
yang memasak dan membersihkan rumah ini. Jadi aku seperti tuan putri disini.
Semua fasilitas udah disediain sama adit. Mobil jazz merah milik adit pun ada
disini, dan aku bebas untuk menggunakannya. Kalo dipikir-pikir nih, aku seperti
istri yang ditinggal suami merantau... hehhee
Aku
merebahkan tubuhku dan menatap langit-langit rumah ini. Terlintas dibenakku,
sedang apa sang pujaan hatiku sekarang? Ishh... mengapa belum sms atau telpon
juga... aku bergumam kesal. Ku ambil ponselku dan kulihat tidak ada chat
ataupun call dari adit. Aku mencoba memahami, mungkin dia sedang sibuk dengan
pekerjaan barunya itu.
......
Drrttttt....
drttttt.... drrrtttt....
Suara
getaran itu berasala dari ponselku yang ada diatas meja. Dengan mata yang masih
mengerjap-ngerjap, aku membuka ponselku dan menerima telpon dari sosok yang
telah kunantikan sejak semalam. Adit menelepon sepagi ini.. gumamku dalam hati
“selamat
pagi princesskuu... udah mandi belum ?? pasti baru bangun kan??” ucap adit
“pagi
juga my prince... ini kan masih jam setengah 6 pagi... lagipula aku gaada jam
kuliah hari ini...” jawabku
“ya
gaboleh males gitu donkk princess... oh
iya, maaf kemarin aku sibuk banget, ada meeting sama para investor disini..
terus malemnya ada jamuan makan dan pesta kecil.. maaf ya princess aku gak
ngabarin kamu...” ucap adit
“pesta??
Pasti banyak cewenya kan?? Pantesan aja lupa sama yang disini..” sahutku kesal
“yeee...
ya kalaupun ada cewenya, aku gabakal berpaling kok princessku... percaya deh...
aku disini kan buat masa depan kita sayang.. aku janji gabakal aneh-aneh
disini..” adit mencoba meyakinkanku
“yaudah
deh... awas ya kalo kamu kecantol prawan kalimantan, kayak judul lagu ituu... ”
aku
“hahaha...
kamu mah lucu banget.. masak aku disamain kayak lagu koplo itu... iyyaa
princess... aku kan udah kecantol sama kamuu... ” adit
“ miss u
my prince... ” ucapku manja
“miss u
more princess... udah dulu ya, disini udah jam setengah 7, aku mau berangkat
kerja dulu. Muachhh...” adit
Belum
sempat aku membalasnya, teleponnya terputus. Mungkin karena jaringan yang
jelek. Aku merasa sangat bahagia, adit terus menyayangi dan memanjakanku.
Hari
ini, aku hanya duduk dirumah dan menghabiskan waktu untuk menonton acara tv.
Sebenarnya lisa ngajakin pergi jalan ke mall, tapi aku males kalo gak sama
adit. Lebih baik duduk sambil nonton film horor dirumah.
4 bulan
kemudian...
Saat ini
aku udah menginjak semester 6. Dimana pada saat semester ini kami akan
disibukkan dengan PKL, KKN, dan lain sebagainya. Minggu depan kami akan KKN ke
tempat yang jauh dari kota. Kebayang kan, gimana kita harus bertahan hidup di
lingkungan yang serba terbatas.
“lis,
kita sekelompok sama siapa aja??” tanyaku pada lisa
“aku,
kamu, dion, sheila dan kevin. ” jawab
lisa sambil menghitung
“kevin??
Si cowo sok perfect itu??” tanyaku heran
“iya,
tadinya dia gak sekelompok sama kita, tapi gatau tuh tiba2 pindah dikelompok
kita.” Jawab lisa
“kok
bisa sih... ishhh.. sial bener nih nasib.” Gumamku kesal
Bukan
karna apa-apa, kami juga gak pernah ada masalah. Namun, aku merasa gak nyaman
aja bareng kevin, dia memang ganteng tapi sok perfect kalo lagi dikerubutin
cewe2. Dan, aku denger-denger dia tuh orangnya nekad kalo punya keinginan. Aneh
kan.
“haii
riia.. kita satu kelompok kan??” tanya kevin padaku
“hmm...”
jawabku acuh
“ntar
berangkatnya mau bareng aku gak??” tawar kevin
“emmm
boleh sih.. tapi kita berlima berangkatnya. Muat kan mobilmu??” aku tersenyum
sinis
“emm...
okelah... no problem..” jawab kevin sepertinya terpaksa
Aku tak
mempedulikan kevin lagi dan pergi meninggalkannya.
.....
Hari
pertama KKN dimulai. Dihari ini, kami hanya berkenalan dengan pak kades desa
setempat. Disini jauh dari home stay ataupun hotel. Jadi kami berlima harus
ditinggal dirumah yang sudah disediakan oleh pak kades tadi. Rumah itu
keliahatannya kosong dan tak terawat. Mungkin sudah lama tak ditinggali.
Alhasil, kami juga harus bersih-bersih agar bisa tinggal ditempat tersebut.
“lis..
bantuin dong angkat tempat sampah ini... berat kalo sendirian..” pintaku pada
lisa
“males...
kotor tauu...” lisa menggeleng dan tertawa melihatku menderita
“isshh..
awas ya...” ancamku pada lisa
Ketika
lisa berjalan kearahku, tiba-tiba kevin menyambar tempat sampah sisi lainnya
yang sudah aku pegang.
“ayo aku
bantuin..” ucap kevin
Aku
kaget dan hanya bisa mengangguk. Ternyata dibalik sikap sombongnya, kevin juga
punya rasa sosial yang tinggi.
“thankss”
ucapku pelan
Kevin
hanya mengacungkan jempolnya dan pergi meninggalkanku.
“ehemm...
ehemmm...” lisa berdehem
“apaan
lo... tadi suruh bantuin gak mau...” ucapku kesal
Lisa
hanya meringis, sementara aku pergi untuk membersihkan yang lainnya.
Setelah
seharian ini kami bersih-bersih, rasanya badanku pegal dan capek.
Dirumah
ini hanya ada 3 kamar. jadi aku sama
lisa tidur satu kamar.
“lis...
udah tidur belum??” tanyaku pelan
“kenapa??
” jawab lisa seraya membalikkan badan
“ kangen
nih sama my prince... mana gak ada sinyal lagi disini..” ucapku kesal
“sukurin..
hahhaa” lisa mengejekku
“ah
percuma curhat sama temen yang gak pernah pacaran, kamu kan pasti gatau rasanya
kangen berat... ” ejekku balik
“rii..
cintaku hanya untuk calon suamiku kelak.. no pacaran.. no kangen-kangenan..”
ucap lisa percaya diri
“iya
deh.. terserah..” jawabku putus asa
Pagi ini
kami memulai KKN dengan menelusuri sudut desa ke desa. Kami menemukan beberapa
anak kecil yang sedang bermain bola dilapangan. Ada teman kami bertugas
mengambil gambarnya juga. Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan satu usaha
rumahan yang memproduksi telur asin dengan berbagai rasa. Sesuai jurusan kami,
manajemen, kami pun melakukan wawancara dengan pemilik usaha tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan
penelitian dengan obyek usaha tersebut.
Hari-
hari selanjutnya berjalan dengan lancar. Akupun seakan lupa akan kekasihku. My
prince adit. Tapi sebelumnya aku sudah memberitahunya dan juga menuliskan
alamat tempat aku KKN.
Sudah 7
minggu kami berada disini. Dan seminggu lagi kami akan kembali kuliah seperti
biasanya. Malam ini, anak-anak sudah berkumpul didepan dan menyalakan api
unggun sambil bermain musik dengan gitar yang dibawa kevin. Aku ingin bergabung
dengan yang lain, namun saat pikiranku terfokus pada 1 nama, Adit. Aku terus
memikirkannya dan berharap dia baik-baik saja diseberang sana.
“ria...
sini gabung sama yang lain..” suara kevin memecah lamunanku
Aku
hanya menggeleng kepala dan masih duduk diteras rumah ini.
Kemudian,
terlihat kevin berdiri dan berjalan kearahku.
“ngapain
disini sendirian?? Kesambet ntar..” kevin menakutiku
“nggak
ah... aku disini aja..” jawabku masih tak bergegas
Tiba-tiba
kevin malah duduk disampingku.
“yaudah
kalo gitu, aku juga disini aja. Siapa tau bisa kesambet berdua..” ucap kevin
menggodaku seraya tersenyum tipis
Beberapa
menit kami hanya terdiam dan tidak saling menatap. Sepertinya kami sedang sibuk
dengan pikiran masing-masing.
“riaa...”
panggil kevin
“ya...”
jawabku pelan
“kamu
gimana sama adit??” tanya kevin
“ya
emang kenapa?? Penting banget ya ??” tanyaku berbalik padanya
“ya
enggak, tanya aja. ” jawab kevin pelan
Aku
hanya terdiam dan tak memberikan jawaban apapun pada kevin
“ria...
aku suka sama kamu.” Ucap kevin mengagetkanku
“jangan
becanda deh,.. aku udah punya adit.. ” jawabku ketus
“iya aku
tau, setidaknya aku udah ngungkapin itu. Aku gak berharap kamu membalasnya
kok.” Ucap kevin tenang
“hmm...
kevin, mungkin kita gak bisa jadi pacar, tapi kalo kita bisa jadi teman kenapa
tidak?? ”ucapku
“iya aku
terima itu kok.. tapi satu hal lagi, kalo kamu membutuhkan aku, kapanpun aku selalu ada untukmu.” Ucap kevin
Aku
hanya tersenyum dan tak melanjutkan obrolan tersebut.
Akhirnya
kami sudah kembali ke rumah masing-masing. Dengan penuh perasaan bahagia, aku
membuka pintu yang tak terkunci itu.
“riiaa...”
suara itu suara adit.
Kapan
dia kembali? Kenapa gak ngasih kabar?? Aku masih tercengang dan tak menjawab
adit.
Namun
kali ini adit tak sendirian, dia bersama wanita yang lebih tua sepertinya.
“aditt...”
jawabku pelan
“kamu
udah kembali??” tanya adit kebingungan
“iya..
siapa dia??” tanyaku sambil melirik kearah wanita itu
“ini...
iniiii atasanku, namanya buuu Risma. ” jawab adit terbata-bata
Akupun
naik keatas dan menuju kamarku. Namun kali ini kamarku berbeda. Kulihat ada
barang-barang milik orang lain disini. Kubuka lemari pakaianku, dan benar ada
baju milik orang lain disini. Aku berlari keluar dan menghampiri adit yang
masih berdiri diruang tengah rumah ini.
“barang-barang
siapa yang ada dikamarku???” tanyaku keras
“emm...
itu... itu milik bu risma. ” jawab adit terbata-bata
“maksud
kamu apa nyuruh dia tidur dikamarku??” aku kembali bertanya
“riaa...
denger dulu, aku bisa jelasin semuanya... kamu duduk dulu ya..” ucap adit
sambil mendudukkanku
“jadi
apa??” tanyaku
“ini bu
risma, dia adalah tunanganku. Dia tunanganku yang sudah dipersiapkan oleh
ayahku. Maafkan aku ria.. aku juga baru tau..” ucap adit
Seketika
hidupku serasa hancur. Rasanya seperti diangkat ke langit ketujuh dan kemudian
dibanting kebumi dengan kerasnya. Ini kenyataan yang sungguh menyakitkan. Tak
terasa air mataku pun mengalir dengan derasnya. Aku tak tau harus berkata
apa-apa lagi. Bagiku hidupku sudah hancur, gelap gulita, dan tak ada lagi
cahaya dimataku.
“riaa...
maafin aku... sebenarnya aku baru diberi tahu ayahku seminggu yang lalu. Maafin
aku ria...” ucap adit sedih
Aku tak
bicara apapun dan seketika aku kembali kekamar dan mengambil koperku.
“ria..
kamu mau kemana malam-malam begini??” tanya adit
“bukan
urusan kami. Terimakasih udah nemenin selama 3 tahun ini” jawabku seraya pergi
meninggalkan rumah itu.
Aku
terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang yang heran melihatku. Bagaimana
tidak?? Mereka pasti berpikir aku telah gila karena menangis tersedu-sedu
dijalanan yang ramai ini. Aku melihat ponselku, ternyata ini sudah jam 10 malam,
aku bingung harus kemana malam ini. Akhirnya aku menelpon lisa dan minta tolong
untuk bisa menginap dirumahnya malam ini.
“kenapa
riii?? Ada apa dengan dirimu??” tanya lisa penasaran
“lisa...
kamu pasti gak akan pernah ngebayangin hal ini. ”jawabku masih dalam menangis
“iya,
kenapa??” tanya lisa
“adit...
aditt sudah dijodohkan sama orangtuanya... dan tadi dirumah aku ketemu sama dia
dan jodohnya itu. ” jawabku
“kok
bisa dijodohkan?? Terus hubungan kamu gimana dong sama adit??”tanya lisa lagi
“hubunganku
sama dia??? Entahlah, mungkin udah berakhir semenjak dia mengatakan hal
tersebut. ”jawabku
“ya
ampun ria... yang sabar ya.. emang bener-bener tuh cowo. Kenapa gak nolak atau
gimana kek?? Kan dia udah punya pacar. ” gerutu lisa ikut kesal
“udahlah
lis, mungkin emang kita gak jodoh. Mulai sekarang jangan bahas ini lagi, aku
mau buka lembaran baru tanpa dia.” Jawabku tenang mencoba meyakinkan diriku
sendiri
“kamu
harus kuat rii.. masih banyak laki-laki diluar sana. ” ucap lisa menenangkanku
“iya
lis.”jawabku pelan
...............
Pagi ini
aku berangkat ke kampus bareng lisa. Aku juga sudah berencana kembali ke kosan
lamaku sore nanti. Hari yang cerah untuk jiwa yang hancur. Begitulah ungkapan
untukku hari ini. Harusnya hari ini adalah hari anniv kita yang ketiga. Kita???
Udah gaada lagi kata “kita” untuk kami berdua. Dia telah memutuskan jalan
hidupnya sendiri. Ada satu hal yang masih mengusik pikiranku. Mengapa adit gak
nolak untuk dijodohkan?? Satu pertanyaan yang gak akan pernah aku ketahui
jawabannya.
Dikampus
pun aku tak bisa berkonsentrasi. Ragaku memang ada disini, namun jiwaku
melayang-layang memikirkan hal yang terjadi tadi malam. Aku masih tak percaya.
Lama-lama bisa gila aku dibuatnya.
“riaa...
ayo kita pulang. Mau ngelamun disini sampe kapan??” ucap lisa memecah
keheningan
“emmm..
iya..” jawabku lemas
Lisa
mengantarku kembali ke kosan lamaku. Ternyata kamar ini belum disewa oleh
penghuni baru. Masih sama seperti dulu aku meninggalkannya. Mungkin memang
disinilah tempatku.
“makasih
lis..” ucapku
“sama-sama.
Kalo butuh sesuatu hubungi aku ya. Awas kalo sampe berpikiran bunuh diri. Putus
cinta itu biasa.” Ucap lisa sambil tersenyum meninggalkanku
Dulu
tempat ini menjadi saksi bisu kebahagiaanku bersama adit. Namun kini seolah
tuhan tidak memihakku lagi. Disini aku akan menghabiskan waktuku dengan sejuta
luka dan kesedihan. Mengapa takdir sekejam ini padaku? Dulu aku berpikir,
takdir seolah memihakku, namun kini itu semua hanya bayangan semu. Aku harus
dihadapkan pada kenyataan yang tak ingin ku hadapi untuk kedua kalinya. Dulu
bersama zaenal, aku juga harus berpisah karena perselingkuhan. Sekarang, aku
dan adit harus berpisah karena perjodohan. Sungguh tragis kisah cintaku. 3
tahun bukan waktu yang sebentar. Bahkan aku harus mengubur dalam-dalam impianku
untuh hidup bersamanya.
Hari
terus berlanjut. Seminggu setelah kejadian itu, aku tak banyak bicara. Aku
hanya diam dan termenung dimanapun itu. Dikampus aku melamun dan tak
menghiraukan dosen bicara apa. Di kosan aku hanya duduk melamun dan tidur. Tak
banyak kegiatan yang aku lakukan. Bagaimana dengan adit? Entahlah, semenjak
kejadian itu kami tidak pernah lagi berkomunikasi. Dia serasa menghilang
ditelan bumi.
Drrrtt..
drrrttt...
Ponselku
bergetar. Entah siapa yang malam-malam begini telpon. Kulihat nomor baru.
“halo...
siapa ya??” tanyaku pelan
“ria..
ini aku kevin..” jawab seseorang yang ternyata kevin
“ohh...
ada perlu apa??” tanyaku acuh
“gaada
perlu sih... Cuma pengen aja telpon kamu.. hehe” terdengar kevin tertawa
diseberang sana
“aku
lagi gak mood becanda ah... kalo gaada penting aku matiin ya. ” jawabku sinis
“ehh
tunggu dulu.. aku Cuma mau tanya, kamu kenapa kok akhir-akhir ini jadi murung?
Kata lisa kamu dan adit udah selesai ya??” tanya kevin
“emmm...
ya gitu deh. Udah ah aku gak mau bahas itu lagi. ” jawabku singkat
“ya
udah, kamu jangan pernah berpikir sendirian ya, ada aku dan lisa disampingmu.
Aku akan selalu ada untukkmu. byeee ” ucap kevin lalu memutuskan telpon.
Aku tak
habis pikir, mengapa kevin selalu memperhatikanku? Kenapa dia begitu baik
padaku? Apa dia masih punya rasa itu? Seperti yang diucapkan di malam kita KKN
kemarin. Entahlah, semua laki-laki pasti begitu. Awalnya aja baik, perhatian,
bilang sayang lah , inilah itulah, akhirnya juga ditinggal kan. Semenjak
kejadian itu aku menjadi cuek bebek terhadap cowo manapun.
Pagi ini
aku ke kampus seperti biasanya. Tiba-tiba saat aku berjalan menuju kelasku, ada
sosok yang berjalan disampingku.
“kevin??”
langkahku berhenti dan menoleh kearahnya
“ayo
jalan.. keburu masuk ntar..” jawab kevin cuek
“ngapain
kamu jalan disampingku? Duluan gih...” aku merasa tak nyaman
“aku kan
udah bilang semalem, aku akan selalu ada disampingmu. ” jawabnya sambil nyengir
“terserah
deh.” Aku masih saja acuh dan terus berjalan
Sampai
dikelas, aku duduk dibangku biasanya. Aku memilih untuk duduk di pojokan kelas
yang dekat dengan jendela. Lagi-lagi kevin mengikutiku. Dia juga duduk
disampingku. Apa-apaan coba?? Aku merasa kesal dengan kevin hari ini. Namun aku
hanya diam dan mengikuti kelas pada hari ini dengan santai.
“ria...
kita mampir ke cafe biasanya yuk... kangen nih.. lama gak kesitu..” ucap lisa
ketika aku selesai mengemasi barangku
“males
ah.. aku mau pulang aja. ” jawabku singkat.
“ayolahh...
plisss... ya ya ya...??” lisa memelas
“hmmm...
okelah..” aku tak tega melihatnya
Sampai
di cafe biasa kita nongkrong, seperti biasa aku hanya memesan hot cokelat
favoritku. Kali ini aku tak memesan makanan, akhir-akhir ini aku tak nafsu
makan. Sehari paling hanya 2 kali bahkan juga kadang Cuma sekali.
“ria..
kamu gak pesen makanan??” tanya lisa
“aku
masih kenyang.” Jawabku asal
“beneran??”
tanya lisa lagi
Aku
hanya mengangguk
Sebenernya
aku lapar, namun aku tak nafsu makan disini. Dulu aku pernah mengajak adit
kesini dan makan berdua. Teringat kembali kenangan saat bersamanya. Seperti
disambar petir, apa yang aku pikirkan saat ini ternyata ada didepan mataku.
Kulihat adit dan risma masuk ke cafe tempat kami berada. Aku langsung
membelalakkan mataku. Apa benar yang aku lihat ini?? Apa ini mimpi??? Tapii... ini
memang nyata, bukan mimpi lagi.
“adit..”
gumamku pelan saat melihatnya masuk kedalam cafe
“siapa??”
tanya lisa seraya melihat arah tatapanku.
“riaaa...”
adit juga kaget melihatku
Beberapa
detik kami bertatapan dan terdiam satu sama lain. Tiba-tiba risma menarik
lengan adit dan berjalan menuju meja yang ada dipojokan cafe.
Aku
masih termenung seakan tak percaya akan
hal ini.
“rii...”
panggil lisa
Aku
tersentak dan kembali normal lagi.
“kamu
gapapa kan??” lisa mengkhawatirkanku
Aku
hanya mengangguk
“apa
kita pergi aja dari sini??” lisa menawarkanku
“gausah
lis, kita udah pesen makanan kan. Sayang kalo kita buang.” Jawabku tenang
Akhirnya
aku dan lisa menikmati makanan dan cuek akan keberadaan adit disana.
Setelah
selesai makan, aku dan lisa pergi dari cafe tersebut. Kulihat adit masih ada
didalam cafe. Namun aku seolah tak percaya, dua kali aku dihadapkan pada
kondisi yang sama. Dulu di cafe dekat lawang sewu, aku bertemu zaenal dan
wanitanya, sekarang aku bertemu adit dan juga wanitanya. Apa tuhan sudah
merencanakan ini sebelumnya?? Hah... aku kesal dibuatnya.
Malam
ini malam minggu, biasanya kalau malam minggu aku dan adit menghabiskan waktu
bersama dialun-alun kota ini. Teringat kembali kenangan itu. Ahh.. mengapa
begitu banyak kenangan bersamanya?? Disini aku hanya melamun dan melihat
bintang diatas sana. Aku berpikir, mengapa bintang terus bersinar meskipun
terkadang dia hanya sendirian? Mengapa bintang mau berada tempat yang gelap dan
meneranginya? Mengapa?? Pikiranku mulai kacau dengan sejuta pertanyaan yang
tidak penting. Tiba-tiba terdengar suara mobil parkir didepan kosanku. Mobil warna
hitam itu berhenti tepat didepan kosanku. Ada seseorang yang keluar dari mobil itu. Sepertinya aku
kenal. Kevin... gumamku dalam hati.
“dingin
gini kenapa duduk diluar??” suara itu menuju kearahku
“seneng
aja disini. ” jawabku asal
“aku
kesepian. Boleh kan aku kesini??” ucap kevin seraya duduk dikursi yang ada
disampingku
“kalo
aku bilang gak boleh, terus kamu mau pulang?? Toh kamu udah ada disini baru
minta ijin. Dasar aneh. ” jawabku sinis
“hehe..
galak bener sih... kalo gak boleh aku juga akan tetap disini,.. ” jawabnya
sambil nyengir kuda
Sejenak
kami berdua hanya terdiam. Tak keluar sepatahkatapun dari mulut kami. Aku juga
bingung harus ngobrol apa sama kevin.
“ehemm...”
kevin berdehem
Aku
menoleh kearah arah kevin dan menatapnya. Namun dia hanya tersenyum dan terus
menatapku.
“ria...
”
“hemm....”
“kamu
pesek ya... hahaha” kevin tersenyum puas menggodaku
“biarin
ahh... bodo amat..” jawabku kesal
“yee... gitu aja ngambek.. abis dari tadi diem aja
sih.. aku kan bukan patung disini. Ajakin ngobrol kek... ” ucap kevin
“salah
sendiri kesini... aku kan lagi puasa ngomong..” jawabku sinis
Kevin
hanya tersenyum. Dan suasana menjadi tenang lagi.
Setelah
lebih dari 1 jam disini, akhirnya kevin pamit pulang. Tak banyak yang kami
bicarakan. Sepertinya kevin juga sudah kehabisan akal untuk bisa mengobrol
denganku. Akupun kembali masuk dan tidur didalam.
Minggu
Biasanya
hari minggu digunakan anak muda untuk bersenang-senang. Dulu aku juga begitu,
kini hanya bisa mengingat semua kenangan itu. Pagi ini sungguh cerah. Entah
mengapa aku ingin sekali menikmati udara pagi dengan lari disekitar kompleks.
Kami juga sering berlari bersama dipagi hari setiap akhir pekan. Lagi-lagi
selalu teringat tentang dirinya, mengapa selalu ada kenangan disetiap
langkahku. Seperti ada bayangan yang selalu mengikutiku. Segera kutepis semua
ingatanku tentangnya. Aku harus bisa move on. Harus.!!
Sambil
terus berlari mengelilingi kompleks, aku berpikir bisakah aku hidup normal
kembali. Kembali pada ria yang selalu happy, selalu bahagia dan ceria. Bukan
ria yang sekarang ini, murung dan pendiam. Aku pernah mengalami ini sebelumnya,
mengapa tidak bisa? Satu-satunya yang bisa buatku melupakannya adalah mencari
sosok baru yang bisa membuatku nyaman.
Saat
tengah asik berlari dengan memikirkan sejuta pertanyaan untuk diriku sendiri,
aku berhenti sejenak untuk duduk dipinggiran jalan kompleks ini. Mengatur nafas
dan mulai menghirup segarnya udara pagi ini. Hari ini mood ku sungguh bagus.
Aku jadi ingin pergi ke pantai. Namun sama siapa aku akan pergi? Kenapa
tiba-tiba aku berpikir untuk pergi bersama kevin? Dari semalam kevin terus
berada diotakku, sepertinya dia terjebak dan tidak dapat keluar diotakku.
Kemudian aku berlari menuju kosan dan segera mewujudkan keinginanku.
Kubuka
ponselku dengan penuh semangat. Kulihat ada 1 sms dari nomor yang akhir-akhir
ini sering menghubungiku, siapa lagi kalau bukan kevin.
“pagii
miss judes... jangan lupa bahagia ya... ”
Apa-apaan
miss judes? Emang aku judes apa? Apa gara-gara semalam aku galak sama dia?
Ihh.. nyebelin tau gak... aku jadi males mau ngajakin pergi ke pantai sama dia.
“miss
judes?? Enak aja ganti-ganti nama orang. ” sms balasanku
Tak
berselang lama ada sms lagi dari kevin.
“tuh kan
marah. Apa coba namanya kalo bukan judes? Makanya dong jangan marah mulu, cepet
keriput ntar gak laku lagi.. hahaha”
Aku
membaca sms dari kevin membuat emosi meledak-ledak. Apa-apaan coba dia ngatain
aku keriput?? Ihh... gajadi deh ngajakin pergi. Udah ilfeel pagi-pagi.
Aku
membuang ponselku dikasur, aku tak membalas lagi smsnya. Kurebahkan tubuhku dan
menarik nafas panjang.
“enaknya
ngapain ya..” gumamku sendiri
Terdengar
ponselku berdering. Ternyata kevin menelponku.
“ya
hallo... ”
“kenapa??”
“enggak
.”
“yaudah
ya aku mau mandi. Aku sibuk hari ini.”
Setelah
telepon terputus, aku menghela nafas panjang lagi. Ternyata kevin menelponku
karena aku tidak membalas smsnya lagi. Dia juga bertanya apakah ku marah sama
dia? Aku bahkan tidak mempedulikan kevin tadi. Hanya menjawab dengan jawaban
singkat dan terdengar sangat cuek.
Akhirnya
hari ini aku memutuskan untuk bersantai dikos saja.
Beberapa
minggu kemudian
Sudah 3
minggu ini semenjak kevin ke kosanku, aku tidak lagi bertemu dengannya dikampus
atau dimanapun. Rasanya sepi, aku tidak
lagi bertemu dengannya, teman-teman yang lain juga tidak melihatnya. Aku
berpikir untuk menghubunginya hari ini.
“lis...
kevin kemana ya kok dia gak pernah kekampus ??” tanyaku pada lisa
“gatau
deh... sejak kapan sih kamu peduli sama kevin?” tanya lisa mencurigaiku
“yeee...
kan Cuma nanya... aku jadi khawatir deh lis.. kamu tau rumahnya gak??” tanyaku
“emmm...
aku tau sih komplek rumahnya dia, tapi gatau rumahnya yang mana.” Jawab lisa
serius
“kita
kerumahnya bareng yukk... firasatku gak enak.. ” ucapku pelan
“boleh..
ayo sekarang kita pergi.” Ucap lisa
Aku dan
lisa pun langsung bergegas menuju rumahnya kevin. Sampai di kompleks perumahan
kevin, kami bertanya pada satpam yang kebetulan lewat. Kamipun mendapatkan
alamat yang kami cari.
Sampai
didepan rumah warna hijau terang ini, aku dan lisa turun dari mobil. Rumah ini
begitu besar. Dihalaman depan juga ada taman kecil yang indah. Kulihat mobil
kevin terparkir digarasi rumahnya. Kuberanikan diri untuk masuk dan menekan bel
rumah ini.
“permisi...”
“permisii...”
Tak lama
pintu didepanku terbuka. Kulihat sosok wanita paruh baya agak gemuk berada
didepanku.
“cari
siapa ya mbak??” tanya wanita itu
“apa ini
rumahnya kevin, kami teman kuliahnya kevin.” Jawabku sopan
Kulihat
wanita itu sedikit terkejut seperti ada yang disembunyikan dariku.
“emm...
anu... silahkan masuk dulu non. ” ucapnya gelagapan
Kami
berdua pun masuk dan duduk diruang tengah. Terlihat rumah ini sepi sekali.
Dimana kevin?? Orangtuanya juga gak terlihat. Banyak pertanyaan muncul diotakku
Kemudian
wanita yang tadi membukakan pintu muncul kembali dan membawa minuman untuk
kami.
“silahkan
diminum non..” ucap wanita itu ramah
“makasih
biikk...” jawabku tak kalah ramah
“emm
biikk... kevin dimana ya? Kok gak ada orang dirumah ini? Orangtuanya juga gak
kelihatan dari tadi. ” tanyaku penasaran
“emmm
anu non.. den kevin, tuan dan nyonya sedang pergi ke singapura... ” ucap wanita
itu dengan penuh kesedihan
“berlibur
ya biikk??” sahut lisa
Bibikk menggeleng.
“den kevin sedang menjalani operasi non..” jawab bibik dan tiba-tiba air
matanya menetes
“operasi??
Operasi apa bikk??” tanyaku penasaran
“anu
non.. den kevin mengalami gagal ginjal.. dan sudah 2 minggu lebih den kevin
berada disingapura. ” jawabnya
“gagal
ginjal?? ” gumamku pelan
“ya
allah bikk... penyakit separah itu kenapa dia gak pernah nunjukin kalo dia
sakit??” lisa bertanya dengan mata berkaca-kaca
“den
kevin memang dari dulu orangnya selalu ceria, ketika divonis dokterpun dia
tidak pernah menunjukkan penyakitnya. Dia sering bercerita pada bibikk, kalau
dia tidak mau teman-temannya tau dan menjadi sedih.” Jelas wanita itu
Akhirnya
kami bertiga pun saling meneteskan air mata.
“kira-kira
kapan kevin pulang biik??” tanyaku
“kata
tuan kemarin den kevin boleh pulang dalam 3 hari kedepan” jawabnya
“biikk...
makasih ya atas infonya.. kami pamit dulu, kami akan kemari lagi kalau kevin
udah pulang. Permisi bikk..” ucapku seraya bersalaman kepada bibikk
Diperjalanan,
kami berdua hanya terdiam dan tak habis pikir mengapa kevin menyembunyikan hal
ini kepada kami dan teman lainnya. Penyakit separah ini dan dia masih bisa
tersenyum dan menghiburku? Apa dia sudah gila?? Gumamku dalam hati.
Sampai
dikosan, akupun terus memikirkan kevin. Aku tak bisa sedetikpun untuk tidak
memikirkan dia. Mengapa dia terus menyemangatiku dan berkata akan terus
disampingku sementara dia sendiri yang butuh support dari orang terdekatnya.
Aku menyesali ketika dimalam kevin kesini dan ingin mengobrol denganku, aku
tidak pernah sedikitpun tersenyum manis padanya. Aku takut jika itu adalah
malam terakhir aku bertemu dengannya. Segala penyesalan ada dibenakku. Aku
selalu mengingat perkataannya. Dia akan terus berada disampingku. Dia juga akan
selalu ada ketika aku membutuhkannya. Namun dimana dia sekarang? Dia sedang
membutuhkan semangat dari orang lain, dia sedang berjuang untuk hidupnya
sendiri. Dan aku??? Aku hanya bisa menyesali perbuatanku padanya dan berdoa
dari sini.
Beberapa
hari kemudian
Sudah 4
hari setelah hari itu. Hari dimana kami mengetahui kebenaran tentang kevin. Dan
hari ini aku memutuskan untuk kerumah kevin. Lisa sebenarnya ingin ikut
denganku, namun ada salah satu sepupunya yang menikah hari ini. Jadi lisa tak
bisa menemaniku. Dengan penuh semangat aku pergi kerumah kevin. Jaraknya tidak
terlalu jauh dari tempatku berada. Aku memutuskan untuk naik ojek menuju rumah
kevin. Sampai dirumahnya, aku segera menekan bel dan tidak sabar untuk bertemu
kevin.
“eh non
yang kemarin... ” sapa bibik itu lagi
“kevinnya
ada bikk??” tanyaku pelan
“iya
non.. mari saya antar..” jawab bibik sambil memanduku menuju kamar kevin
Tok tok
tok..
“permisi
den... ada tamu buat den kevin.” Ucap bibi itu sambil membuka sedikit pintu
kamar kevin
“siapa??”
ucap kevin lemas
Kemudian
aku menampakkan wajahku dan berjalan masuk menuju tempat dimana kevin sedang
berbaring. Terlihat jelas mata kevin yang melotot kearahku, sepertinya dia
terkejut.
“riii-riiaaa”
ucapnya pelan
Kevin
mencoba untuk bangun, namun aku menahannya
“sssttt..
udah kamu baring aja.. ” ucapku senyum
“kamu
kok ada disini??” tanyanya heran
“udah..
aku udah tau semuanya dari bibikk.. kamu kok tega sih gak ngasih tau aku soal
penyakit kamu??” tanyaku kesal
“aku...
akuu tidak mau kamu tau..” jawab kevin pelan
“untung
aja aku kemarin kesini dan tanya sama bibik... lain kali kalo kamu ada apa-apa
bilang dong sama aku. Kita kan teman.” Gerutuku
Kevin
hanya tersenyum dan terus menatapku
“orangtua
kamu dimana vin??” tanyaku
“mereka
udah pergi tadi.. orangtuaku selalu sibuk dengan pekerjaannya” jawab kevin
“ohhh...”
aku mengangguk-angguk
“kamu
udah makan belum??” tanyaku lagi
Kevin
menggeleng
“tunggu
bentar ya, aku ambilin makanan buat kamu. ” aku
Aku
turun kebawah dan menuju dapur rumah ini, disitu aku melihat bibik yang sedang
membersihkan dapur tsb.
“bikk...
buatin bubur dong buat kevin..” pintaku dengan senyum ramah
“oke
non.. tapi non siapa kok perhatian sekali sama den kevin. Pacarnya ya??? Hayo
ngaku...” bibik itu menggodaku
“enggak
bik... aku temannya kevin. Namaku ria. ” jawabku
“ria???”
bibik terkejut ketika mendengar namaku
“iya
biikk... ria. Kenapa emangnya??” tanyaku heran
“den
kevin pernah cerita sama bibik, kalau den kevin suka sama seseorang yang
namanya Ria. Katanya non ria itu galak banget kalo sama den kevin. ” jawab bibik
sambil terus memasak bubur
“kevin
ngomong gitu bik??”ucapku kesal
“iya
non... den kevin juga bilang kalau non ria itu satu-satunya perempuan yang buat
den kevin tergila-gila. Bahkan den kevin sampai kehabisan akal buat bisa bareng
terus dan ngobrol sama non ria.” Bibi menjelaskan dengan penuh semangat
“ah
bibik jangan gitu ahh... aku sama kevin Cuma teman kok bikk..” jawabku tersipu
malu
Beberapa
menit kemudian buburnya sudah siap. Aku pun membawa nampan yang berisi bubuk
dan air putih.
“maaf ya
lama... abisnya bibik ngajak ngobrol mulu..” ucapku ketika sampai dikamar
kevin.
“gosip
apaan kamu sama bibikk??” tanya kevin
“biasa..
gosipin artis yang tiap hari kawin cerai mulu.. heheehe” jawabku asal
“dasar
cewe sukanya gosip.” Gerutu kevin
“yaudah..
nih makan dulu. Kamu bisa makan sendiri kan??” ucapku
“emm...
maunya sih disuapin... kapan lagi disuapin sama miss judes. hehe” ucap kevin
sambil tertawa
“yeee...
yaudah mumpung aku lagi baik hati nih... ” jawabku tersenyum manis
Akhirnya
aku menyuapi kevin sampai dia selesai makan. Mata kami saling bertatapan dan
aku menjadi canggung ketika menatapnya. Beberapa menit itu kulalui dengan
perasaan yang berdebar. Jantungku rasanya berdetak kencang tanpa bisa dikendalikan
lagi.
“riaa...”
kevin memanggilku
“ada
apa??” jawabku
“makasih
ya... akhirnya aku bisa sedekat ini sama kamu. Makasih udah mau ngerawat aku..
makasih udah mau nyuapin aku.. makasih ria..” ucap kevin pelan
Aku
hanya tersenyum dan mengangguk.
“sekarang
kamu minum obat terus istirahat ya...” ucapku
Setelah
beberapa menit, kevin akhirnya tertidur. Mungkin efek dari obat yang diminumnya
tadi.
Aku
bergegas untuk pulang. Sebelum aku keluar dari kamar kevin, aku mengecup
keningnya dan berkata “cepet sembuh kevin..”.
Entah
kevin mendengar atau tidak. Akupun pamit pada bibik dan pulang.
Keesokan
harinya.
Hari ini
setelah pulang dari kampus aku langsung pulang. Rasanya tubuhku capek sekali.
Aku tadinya ingin mampir kerumah kevin, namun aku memutuskan untuk pulang dan
beristirahat saja. Aku terus memikirkan keadaan kevin, bagaimana keadaannya? Apa
dia sudah makan dan minum obat? Aku terus memikirkannya.
Aku
memegang ponselku dan ingin menanyakan kabarnya. Namun, aku mengurungkan
niatku. Mungkin kevin sedang beristirahat. Pikirku dalam hati.
Malam
ini aku hanya duduk dikursi depan dan melihat bintang-bintang. Teringat kembali
beberapa minggu lalu saat kevin duduk disampingku. Saat itu aku begitu galak
dan cuek padanya. Tiba-tiba terlintas dibenakku untuk menghubunginya. Tapii...
aku kan cewe?? Gengsi dong kalau aku yang nelpon dia duluan. Lagi-lagi aku
mengurungkan niatku.
Seminggu
kemudian
Tak
terasa sudah seminggu berlalu semenjak
aku menjenguk kevin. Pagi ini aku ada jam kuliah. Kupercepat langkahku menuju
kelas. Aku terperanjat kaget ketika melihat kevin sudah ada dikelas dan duduk
disana. Akupun berjalan perlahan menuju kursiku seperti biasa yang berada
dipojok. Entah kenapa, aku senang sekali melihat kevin sudah masuk kuliah lagi.
Hampir 1 bulan dia absen dan mengambil cuti. Akhirnya dia kembali lagi..
Jam pelajaran
pun berakhir. Aku segera mengemasi barangku dan bergegas keluar.
“ria..” seseorang
memanggilku
Aku
menghentikan langkahku dan menoleh kebelakang ,
kulihat kevin berdiri dibelakangku.
“ada apa
vin??” tanyaku singkat
“gapapa
kok..” jawabnya senyum
“aku
pulang dulu ya.” Ucapku segera berbalik
Sebenarnya
aku ingin berbincang lebih lama lagi dengannya, namun aku terlalu naif untuk
itu. Aku tidak bisa menahan rasa gengsiku.
Setelah
beberapa langkah meninggalkan kevin, tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan
langkahku. Aku mengenalnya, bahkan sangat. Dia adalah orang yang dulu membuatku
bagai princess, Adit.
“
adittt???” aku terkejut
“riaa...
aku mau ngomong sebentar denganmu. ” ucap adit singkat
Tanpa
pikir panjang, aku menuruti permintaan adit dan ikut bersamanya. Kami berdua
sekarang berada dimobil adit.
“mau
ngomong apa?? ” tanyaku singkat
“ria...
aku mau minta maaf sama kamu. Aku menyesal karena memilih wanita itu. Aku minta
maaf ria..” ucap adit memelas
“aku
udah maafin kamu kok, aku juga udah lupain semuanya.” Jawabku tenang
“riaa...
aku sangat sayang sama kamu... aku sangat mencintaimu.. aku gak mau menikah
dengan wanita selain kamu... kembalilah padaku riaa...” pinta adit dengan
memegang kedua tanganku
“dit,,
kamu adalah bagian hidupku, tapii... seandainya kamu dulu tidak melepasku dan
tidak memilih wanita itu, mungkin saat ini aku masih bersamamu.. tapii kamu
lebih memilih wanita itu dan melepasku.”ucapku pelan dan air mata membanjiriku
“aku
menyesal ria... aku sadar, denganmu aku bahagia, hanya denganmu... kamu
satu-satunya yang aku sayangii... aku gak akan melepaskanmu lagi... aku akan
menentang orangtuaku demi kamu ria... aku akan menentang perjodohan ini..
wanita itu sangat posesif dan terobsesi denganku,.. aku gak akan bisa hidup
bersamanya. ” adit mencoba menjelaskan semuanya
“kamu
akan menentang orangtuamu?? Maksudmu gimana??” tanyaku heran
“iya...
aku akan pergi jauh dan membawamu pergi untuk hidup bersamaku. Kita bisa hidup
bersama ria... aku mohon...” adit memelas
“maksud
kamu, kamu mau ngajak kawin lari??” aku masih bingung
Adit
mengangguk
“kita
bisa hidup jauh dari sinii... kita akan bahagia ria.. percayalah padaku. Aku
akan bekerja keras dan memulai hidup baru bersamamu. ” adit mencoba
meyakinkanku
“dit,
aku gak bisa. Bagiku orangtua adalah segalanya. Aku tidak bisa hidup tanpa
restu dan doa orangtua. Aku gak mau dit...” jawabku pelan
“tapi
ria... satu-satunya cara agar kita bisa bersama adalah pergi dari sini.
Seminggu lagi aku akan dinikahkan, aku gak bisa menikah dengannya. Tapi orangtuaku
terus memaksa. Keluargaku punya utang budi terhadap keluarganya risma. Aku
harus menikah dengan risma untuk membalas kebaikan keluarganya. ” adit
“maaf
dit, aku gak bisa dan aku gak mau. Semua cintamu sudah ku kubur dalam-dalam
bersama kenangan kita. Aku sudah melupakanmu” ucapku
Akupun
keluar dari mobil adit. Aku tak bisa menahan air mata yang terus mengalir. Aku
yakin, aku sudah membuat keputusan yang tepat. Sambil terus berjalan, aku mulai
membersihkan wajahku dan mengusap air mataku. Hari ini adalah hari yang sulit
bagiku.
.............
Jam
ditanganku menunjukkan pukul 2 siang. Waktunya aku pulang dan beristirahat. Setelah
kejadian kemarin, aku kembali menjadi murung dan pendiam.
“ria...
kita pulang bareng yuk..” ucap kevin menghampiriku
“gak deh
vin... aku pulang sendiri aja. Lagian kita gak satu arah kan.” Jawabku pelan
“kamu
kenapa rii... apa ini gara-gara kemarin kamu ketemu sama adit?” kevin
“kamu
tau dari mana??” tanyaku heran
“aku kan
selalu ada disampingmu, jadi aku tau semuanya.. hehehe ” kevin tertawa
“terserah
deh.. aku pulang dulu. Aku capek” jawabku singkat seraya meninggalkan kevin
Aku
memang masih kepikiran soal adit. Namun saat ini aku butuh waktu sendiri dan
tidak mau diganggu.
Sampai
di kosan.. aku beristirahat dan masih memikirkan apa yang dikatakan adit
kemarin siang. Kawin lari?? Aku memang masih mencintainya, namun aku juga tidak
mungkin untuk pergi bersama dia, apalagi kawin lari. Aku menyayangi orangtuaku,
aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Karena orangtuaku hanya punya aku
seorang, aku anak tunggal. Rasa rindu kepada orangtuaku tiba-tiba
menyelimutiku. Aku ingin pulang, aku ingin memeluk mereka dengan erat. Hampir 5
bulan aku belum pulang sekalipun. Biasanya aku pulang 2 bulan sekali. Tapii...
ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Aku akan pulang sendirian?? Apa yang
akan dikatakan orangtuaku? Dimana adit?? Selama ini orangtuaku mempercayakanku
disini dengan adit. Lalu aku pulang dengan membawa kabar yang mengejutkan ini? Bagaimana
respon orangtuaku? Tidak.. tidak... aku takkan pulang sendirian.. atau aku tak
pulang sekalipun. Tapii... aku rindu kepada mereka, lagipula aku kan anak
mereka satu-satunya, mereka pasti akan mengerti tentang keadaanku sekarang. Aku
yang menjalani hubungan, mereka pasti akan mengerti anaknya ini. Kevin???
Kenapa aku gak pergi sama kevin aja? Tapi apa yang harus aku katakan? Teman?
Pacar? Pasti mereka akan bertanya seperti itu padaku. Isshhh.... sungguh menyebalkan.
Mengapa harus mencari cara dan alasan yang rumit untuk bisa pulang dan bertemu
orangtuaku? Hmm... bagaimanapun keadaanku sekarang, aku tetap anak mereka. Aku
akan pulang. Sendirian atau bersama kevin kalau dia mau.
Setelah
berpikir keras untuk memutuskan pulang ke kampung, aku akan menelpon kevin
sekarang juga.
“hallo
vin..” ucapku
“iya
rii.. ada apa??” ucap kevin diseberang sana
“emm..
vinn.. boleh gak aku minta tolong sama kamu..??” tanyaku pelan
“iya
apaan? ” tanya kevin singkat
“emmm...
aku pengen pulang ke kampung... kamu bisa gak nemenin aku? Aku gak biasa pulang
sendiri.” Jelasku
“pulang
ke pati?? Kapan??”tanya kevin
“emm..
kalo bisa sih besok.. aku udah lama gak pulang soalnya..” aku
“oke
deh. Besok pagi aku jemput jam 9 pagi.” Ucap kevin bersemangat
“makasihh
vin...” aku
“sama-sama
” kevin
Aku lega
setelah menelpon kevin yang mau menemaniku pulang. Dia seperti malaikat
penolongku saja. Malaikat yang selalu berada disampingku. Malaikat yang selalu ada
disaat aku membutuhkannya. Terimakasih tuhan, setidaknya engkau memberiku teman
atau sahabat yang begitu baik padaku.
..........
Pagi jam
8.30 aku sudah bersiap dan berdandan ala kadarnya. 30 menit lagi kevin akan
menjemputku. Aku pun menunggunya dengan penuh semangat. Pas seperti jam yang
telah dijanjikan padaku, kevin pun datang dengan mobil hitamnya. Kali ini kevin
berpenampilan berbeda. Dia memakai kemeja rapi dan tidak memakai kaos oblong
atau jaket seperti biasanya. Namun dia tetap saja keren dan menawan. Hehee
“udah
siapp??” tanya kevin
Aku pun
mengangguk bersemangat
Kami pun
berangkat menuju rumah orangtuaku. Saat perjalanan kami memang terlihat
canggung awalnya, namun karena cuaca dan moodku yang lagi bagus, kami pun
banyak bercanda ria dan saling tertawa.
“ria..
kalo orangtuamu tanya aku siapa kamu, aku jawab apa??” tanya kevin
“emm..
jawab aja kamu majikan aku... hahaha” jawabku asal
“haha...
gila kamu... mana ada majikan mau nganterin anak buahnya pulang kampung..”
kevin
“ada
kok.. itu kamu... hahaha” jawabku masih melucu
“ria..
aku serius nih... aku jawab apa ntar? Teman atau pacar?” tanya kevin serius
“emm..
terserah kamu deh. Mau jawab teman atau pacar sama aja. Yang penting kamu bisa ngendaliin
situasi. Orangtuaku suka nanya aneh2.” Jawabku
“emang
gapapa kalo aku jawab pacar kamu? ” tanya kevin lagi
“kenapa
tidak.. toh kamu juga jomblo kan. Kita pura-pura aja pacaran. Gampang kan.”
Jawabku asal
Kevin mengangguk dan itu mengisyaratkan kalo
dia paham. Toh juga aku pulang paling 2 hari doang.
Setelah
3 jam berada diperjalanan, akhirnya kami sampai dirumah orangtuaku.
“assalamualaikum
” ucapku
“assalamualaikum”
ucapku lagii.
“wa-
waalaikum salam.. riaa anakku.. kamu apa kabar nak?? Kok lama baru pulang??”
mama tersenyum bahagia
“ria
sibuk mahh.. tugas kuliah banyak.. ini aja baru ada waktu mah..” jawabku ngeles
“lha ini
siapa?? Terus adit mana??”mama
“emm...
ini pacarku mah.. kevin.. adit udah nikah sama orang lain.” Jawabku
“ya
tuhannn..... ” ibuku
“halo
tante.. saya kevin ” kevin seraya mengulurkan tangannya
“iya ayo
mari duduk nak... mamah buatin minum dulu ya..” mama
Akhirnya
kami berdua duduk dan mengobrol dirumahku ini. Ini pertama kalinya kevin
kesini.
“vin..
ikut aku yuk.. aku tunjukin sesuatu.” Aku
“apaan ri??” kevin
“udah
ikut aja.” Jawabku
Akhirnya
kevin mengikutiku berjalan kaki. Aku mau menunjukkan sungai yang ada didekat rumahku.
“liat
deh disana vin.. dulu aku sering mandi disungai ini waktu kecil.” Aku
“lha
terus sekarang??” kevin
“sekarang
gimana maksudnya??” aku
“ya
sekarang kok gak mandi disungai.. aku kan juga mau ikutan.. kita mandi disungai
bareng.. hahaha” kevin lagi-lagi menggodaku
“yeee..
dasar otak porno. ” jawabku seraya berlari meninggalkannya menuju rumah
“tungguin
aku rii... gitu aja ngambek.. aku kan
becanda..” teriak kevin yang berlari mengejarku
Sampai
dirumah, aku menuju kamarku. Dan kevin juga menuju kamar tamu yang sudah
disediakan oleh mamaku. Kamar kamipun berdekatan.
Tak
terasa malam tiba. Kami makan malam bersama dengan orangtuaku.
“nak
kevin sudah berapa lama pacaran sama ria??” tanya mamaku
“emm...
baru sebulan ini tante...” jawab kevin gelagapan
“mamah ah
kenapa tanya begituan coba..” aku menyela pembicaraan mereka dan mereka hanya
tertawa geli melihatku.
“emm..
vin kita keluar bentar yukk...” aku sembari menarik tangan kevin keluar
“ada apa
ri??” tanya kevin penasaran
“gapapa..
Cuma mau keluar dari situasi itu aja... ” jawabku singkat
“haha...
kenapa? Orangtuanmu ramah kok.. tapii kepo juga.. pengen tau aja urusan anak
muda..” jawab kevin tertawa lepas
“awas
aja kalo kamu ngomong macam-macam.. aku masukin ke jurang deket sini..” ancamku
pada kevin
Namun
kevin hanya tertawa geli melihatku.
Pagi
tiba. Aku sudah berada di dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Tiba-tiba
kevin keluar dan menghampiriku.
“pagi
tante... ciee anak perawan tumben pagi-pagi udah didapur.hehe” kevin menggodaku
“pagi
nakk kevin... duduk saja disana kami akan menyiapkan sarapan untukmu.” Mamaku
ramah
“jangan
gitu tante.. aku kan bukan orang asing disini..” kevin
“yaudah
deh sana duduk aja. Cowo mau bantuin apa emangnya??” sahutku
“udah-udah...
yuk kita sarapan.. ” mama
Kamipun
bertiga duduk bersama dan makan.
“ngomong-ngomong
kok om gak ikut sarapan tante??” kevin bertanya
“emm..
om tadi pagi berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada tamu penting hari ini...”
mamaku
“ohh...”
kevin
“mah,
habis makan aku mau keliling desa sini sama kevin.. ” aku
“terserah
kamu saja sayang..” mamaku
Setelah
selesai makan aku dan kevin pergi naik mobil. Aku mengajak kevin untuk
mencicipi beberapa makanan unik yang ada disini. Kemudian aku juga mengajaknya
keliling kota ini. Aku jadi lupa waktu dan ini sudah hampir malam. Kamipun
berdua pulang.
“mama..
aku pulang...” aku
“hmm...
kebiasaan deh,. Katanya keliling desa.. pasti keliling kota kan?? ”mamaku
“hehe..
ya biasa lah mah.. aku kan lama gak pulang...” aku
“maaf
tante.. tadi ria diajakin pulang gamau.. katanya mumpung masih disini..” kevin
“iya
nak,tante udah hafal sama sifat anak ini.. yaudah kalian mandi dulu terus makan
makan bareng.” Mamaku
“emm..
kami sudah makan malam tadi diluar tadi mahh.... ” aku
“hmmm...
yasudah... kalian istirahat aja kalo gitu. ”mama
“mah..
aku besok balik ya.. aku gak bisa lama soalnya ini udah mau ujian semester..”aku
“iya...
gagapa.. kamu pulang aja mama udah seneng.” Mamaku kembali tersenyum lembut
“kami
permisi dulu tante..” kevin
Setelah
seharian ini kami pergi jalan-jalan, rasanya tubuhku capek sekali. Namun aku juga
tadi, aku senang saat bersama kevin. Aku jadi melupakan masa sulitku saat
bersama adit. Aku benar-benar sudah melupakannya. Yang ada sekarang ini adalah kevin.
Dia sangat baik padaku. Dia juga mau menuruti semua permintaanku.
Pagi ini
kami sudah siap kembali ke semarang. Walaupun Cuma sebentar, tapi sudah
mengobati rasa rinduku pada orangtuaku.
“mah,
pa, aku berangkat dulu.. ” pamitku
“belajar
yang bener.. jangan nakal disana..” papa
“iya iya..” aku
“pamit
dulu om.. tante.. permisi”kevin
Kamipun
berangkat meninggalkan desa itu. Di perjalanan, aku sesekali melirik kevin yang
begitu bersemangat menyetir mobil. Dia terlihat sangat senang.
“ada apa
liatin aku terus daritadi??” kevin
“eng..
enggakk kok.. siapa juga yang liatin kamu...” aku
“yeee
ngaku aja kalii... aku tau kamu liatin aku terus tadii...” kevin
“hehe..
abisnya kamu cengar cengir sendiri dari tadi.. kayak dapet harta karun aja..”
aku
“emm..
bisa dibilang begitu sih.. aku seneng, orangtuamu sangat baik padaku.. dia
bahkan percaya kalo aku ini pacar anaknya. Mungkin karena aku keren dan tampan
kan... ”kevin dengan pd nya
“kepedean
banget kamu vin vin... ada ya orang sinting ngaku keren... haha” aku tertawa
lepas
“yee...
coba aja kamu pasti akan jatuh cinta padaku.” Kevin
Glekkk....
apa yang dia bilang? Jatuh cinta??? Ohhh mengapa dia mengatakan hal itu??
Seketika bibirku membeku dan lidahku kelu. Aku tak bisa berkata lagi. Sampai
perjalanan kami selesai, aku pun hanya terdiam dan tak berani menatap kevin
lagi.
“makasih
vin... aku masuk dulu.” Aku seraya keluar dari mobil kevin. Aku tak berani
menatapnya.
Kevin
hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin dia menyadari kalo aku sekarang sedang
salah tingkah karena kata-katanya tadi. Jatuh cinta? Jatuh cinta? Kata itu yang
selalu terngiang diotakku.
Aku
membersihkan kamarku yang telah aku tinggalkan 2 hari ini. Setelah semuanya
beres, aku duduk diluar dan menanti senja untuk menyapaku. Hari ini sungguh
melelahkan.
.....
Kampus
Pagi ini
aku sudah berada dikampus. Tidak seperti biasanya, aku berangkat pagi sekali.
Padahal kelas dimulai masih satu jam lagi. Aku duduk dibangku taman kampus dan
mengeluarkan ponselku beserta earphone. Aku mendengarkan lagu kesukaanku “just
give me a reason”. Aku selalu memutarnya hingga aku bosan sendiri. Ada lirik
yang sangat menyentuhku
“just
give me a reason just a little bit’s
enough, just a second we’re not broken just bent and we can learn to love
again.”
Yang
artinya beri aku satu alasan saja, sedikit saja cukup, sebentar saja kita tak
patah hanya bengkok, dan kita bisa belajar mencintai lagi.
Aku
selalu mengingat lirik itu. Dulu, aku pernah memimpikan adit untuk kembali
padaku. Aku selalu berpikir kalau dia kan kembali padaku lagi.
Tiba-tiba
ada seseorang yang duduk disebelahku.
“kevin??”
aku menoleh kesamping
“cieee..
ada yang galau nihh..” kevin
“apaan
sih.. ganggu aja..” aku
“pinjem
ear nya satu dong..” tiba-tiba kevin menarik earphone yang menempel ditelinga
kananku.
Dia mendengarkan
lagu dan ikut bernyanyi. Aku jadi merasa canggung. Jarak kami begitu dekat.
Kevin menempel padaku. Ya tuhan.. apa ini? Aku tidak mungkin punya perasaan
kepada kevin.. tidakkk..
Jantungku
berdegup kencang. Sangat kencang. Aku sudah tidak fokus lagi dengan lagu yang
aku dengar. Aku hanya berusaha mengatur jantungku supaya kevin tidak melihatku
gugup.
Aku
melirik jam tanganku, ternyata 10 menit lagi kelas akan dimulai.
“vin..
udah yuk.. kuliah udah mau dimulai. ” aku
Namun
kevin masih asik mendengarkan lagu yang aku putar.
“kevin....”
aku menepuk lengannya.
“apaan
sihh ri... ” kevin terkejut
“udah
masuk.. ayo..” aku
Aku berdiri
dan meninggalkan ponselku bersama kevin. Aku berjalan menuju kelasku. Kulihat kevin
masih duduk dibangku taman.
Sampai dikelas,
aku duduk dikursi biasanya. Kelas pun dimulai. Namun aku tidak melihat
tanda-tanda kevin. Dimana dia? Apa dia tidak mau ikut kelas ini? Apa dia masih
ditaman? Bener-bener aneh.
Sampai kelas
berakhir kevin tidak ada. Aku pun keluar dan menuju taman tadi. Benar, dia
masih berada disana. Namun kali ini dia sibuk melihat ponselku. Apa yang dia
lihat?? Aku pun teringat pada foto. Fotoku bersama adit. Omg... apa yang harus
aku lakukan. Aku pun menghampirinya dan merebut ponselku.
“apa
yang kamu lakukan dengan ponselku?” teriakku kesal
“riaa...
aku hanya melihat fotomu saja. ” kevin
“kamu
gak boleh buka privasi orang. Aku benci sama kamu.” Akupun meninggalkan kevin
dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin menangis, namun aku malu. Aku benar-benar
tidak suka jika barang pribadiku dibuka oleh orang lain. Aku benci.
Akhirnya
aku pulang seperti biasanya. Kevin menelponku berkali-kali dan mengirimkan sms
minta maaf. Aku tak menghiraukannya.
Keesokan
harinya.
Aku sudah
berada dikelas seperti biasa. Kevin pun juga ada dikelas. Namun kali ini kami
tak saling bicara. Sampai kelas selesai, aku secepat mungkin mengemasi barangku
dan bersiap pulang.
“riaa...”
aku tak bergeming
“kamu
marah sama aku??” kevin
“ria..
jawab aku. Aku ngomong sama kamu.” Kevin terus bicara
Namun aku
tak menghiraukannya dan bergegas keluar.
Aku terus
berjalan lurus dan tak menoleh kearah kevin. Kudengar dia memanggilku dari
kejauhan.
Sampai dikosan,
aku hanya merebahkan tubuhku dan tak melakukan apapun. Aku berpikir, apa aku
terlalu keras marah pada kevin? Apa aku keterlaluan jika marah padanya? Tidak tidak...
dia yang keterlaluan. Aku pantas marah padanya.
Hari berlalu
seperti biasa. Aku dan kevin masih tidak saling bicara. Sudah 3 hari aku tak
menatapnya ataupun bicara dengannya. Lisa yang menyadari hal ini pun bertanya
padaku. Namun aku hanya diam dan tak menceritakan kepadanya.
Malam minggu
Malam ini
begitu sepi. Aku yang berada di depan rumah hanya duduk dan melamun. Tiba-tiba
ada suara mobil yang berhenti didepan kosanku. Aku tau itu mobil siapa. Dan benar,
kevin keluar dari mobil itu. Aku tak ingin melihatnya. Aku pun langsung
bergegas masuk kekamarku. Namun saat aku membuka pintu, ada tangan yang
menarikku.
“riaaa...”
“kamu
kenapa terus menghindariku,?? Aku salah apa??” kevin
Aku masih
bungkam.
“ria...
maafin aku kalau kemarin aku membuka ponselmu.. aku minta maaf ria.. aku tak
bermaksud membuka privasimu..” kevin
“aku
udah lupain kok. Pulanglah...” jawabku
“ria...
pliss... tolong jangan begini padaku. Aku tak bisa ria... aku tak ingin
berjauhan denganmuu,,,, ”kevin
“plisss..
kamu juga harus mengerti aku... aku tak bisa untuk terus dekat denganmu... ”aku
Tak terasa
aku pun meneteskan air mata.
“tapi
kenapa ria?? Kenapa kamu gak mau dekat denganku?? Aku ingin sekali terus dekat
denganmu...” kevin
“karna...
karna aku takut jika aku jatuh cinta padamu..... ” aku kelepasan.
Ya tuhan
apa yang aku katakan... mengapa aku tak bisa menahan emosiku?? Bodohnya aku..
“apa?? Mengapa
kamu harus takut ria?? Sementara aku disini selalu ingin bersamamu, selalu
memikirkanmu... ria... jujurlah pada perasaanmu sendiri. Akuilah kalau kamu
juga cinta kan sama aku..” kevin
Aku tak
bisa berucap lagi. Yang keluar hanya airmata. Aku tau, aku mencintainya. Namun aku
tak mau lagi merasakan cinta, aku tak ingin berakhir seperti halnya aku dan
adit. Lebih baik aku menutup hati dan perasaanku.
“ria...
plisss... jangan bohongi perasaanmu.. aku sayang sama kamu ria... aku cintaaa
sama kamu... ” kevin
Aku tak
bergeming. Tiba-tiba kevin memelukku. Aku terkejut dan ingin melepaskan
pelukannya. Namun tubuhnya begitu kuat. Terdengar jelas degup jantungnya yang
saling berkejaran. Sangat kencang.
“ria...
pliss terima aku.. aku tau kamu masih trauma dengan kisah cintamu yang dulu..
tapi aku janji, aku gak akan melepaskanmu. Gak akan pernah ria.... aku mohon...
terima aku ya...” kevin
“akuu....
aku....” dan akhirnya aku mengangguk
“makasih
ria... aku janji dalam keadaan apapun, aku gak akan pernah melepasmu. 3 tahun
aku menunggumu.. aku sakit ketika adit yang selalu disampingmu. Aku menantikan
moment seperti ini. Aku yang akan selalu disampingmu mulai sekarang. Aku takkan
pernah melepaskanmu. Aku janji.” Kevin
Aku pun
masih memeluk kevin dan menyandarkan kepalaku didadanya. Aku merasa sangat
nyaman.
Terimakasih
tuhan... engkau telah mengirimkan malaikat untukku. Semoga dia yang akan
menjadi cinta terakhirku. Semoga.
.......................bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar