Cinta Si
nona Chubby
Part 1
Ria si
chubby
Namaku
ria, aku masih duduk di bangku SMA kelas 2
di salah satu sekolah swasta dikota kecil ini. Postur tubuhku tidak
begitu menarik, aku sedikit gemuk dan mata yang seperti panda. Sehingga banyak
teman dan guruku memanggilku nona chubby. Aku bukanlah orang yang populer
dikalangan teman2 sekolahku. Karena mungkin aku tidak begitu cantik.
.......
Suatu
hari aku asik memainkan laptopku sembari aku membuka beberapa akun media
sosial, seperti twitter, facebook dan skype. Dikalangan teman2ku aku memang
cewe yang gila akan media sosial. Hampir setiap detik atau menit aku update
status yang gak penting. Aku melakukan itu karena aku kesepian. Bagiku dunia
maya lebih nyata dari dunia nyataku sendiri. Aku sering mendapatkan kenalan
baru di facebook atau skype. Dari yang usia abg sampai dewasa.
PKL
........
Hari itu
hari sabtu tepat dihari itu guru kejuruanku membagikan tempat atau lokasi kami
akan PKL (untuk sekolah kejuruan), minggu ini kami sudah selesai dengan ujian
akhir semester dan sesuai jadwal sehabis semester kami akan melakukan praktek
di lembaga atau perusahaan. Sesuai kejuruanku, administrasi perkantoran aku
ditempatkan di kantor dinas pendidikan di ujung kota ini. Jauh dari tempat
sekolahku. Aku tau bahwa aku akan bersama teman yang satu jurusan denganku,
meskipun kita bukan satu kelas. Namanya yuli, dia tinggal lumayan dekat dengan
rumahku, karena kita masih dalam satu kecamatan. Aku mengajaknya ngobrol dan
menawarkan kalau nanti kita akan berangkat bersama2 ke kantor itu.
“yul,
ternyata kita PKL nya satu kantor loh, kita berdua aja.. “ ucapku mengawali
percakapan.
“ohh
yaa, aku baru sadar kalo kita satu kantor.” Ucap yuli
“iya
yul, rumahmu kan deket sama rumahku, emm.. kebetulan aku juga bakal ngelewatin
rumahmu, gimana kalo kita bareng aja berangkatnya?..”
Tanyaku
sambil tersenyum kepadanya.
“Iyaa
rii.. makasih.. ” jawab yuli sembari menganggukkan kepalanya.
Dia
setuju, dan aku merasa senang karena aku sendiri merasa takut dan kurang PD
jika harus ke kantor sendirian.
.........
Hari
senin tiba, ini hari pertama aku akan PKL dikantor yang sudah dibagikan oleh
guruku. Sebelum itu kami sudah mendapatkan pembekalan agar kami tidak memalukan
saat di tempat PKL.
“hmm...
semoga hari ini lancar dan pegawai nya tidak galak. Sukur2 kalo ada yang muda +
ganteng.. hehehe ” ucapku sambil senyum2 sendiri didepan cermin..
Aku
berangkat dari rumah jam setengah tujuh dan dengan senyum yang mengembang
dipipiku.
Sampai
di gang dekat rumah yuli, aku berhenti dan berangkat bareng sama yuli.
“udah
lama ya nunggu aku” kataku sambil senyum
“enggak
kok rii, aku baru aja jalan dari rumah” jawab yuli
“ohhh...
moga aja hari ini lancar yah,, aku takut kalo pegawainya galak2” kataku
“emang
kalo galak kenapa rii, dia kan juga manusia, sama seperti kita.. hahaha”
jawabnya sambil tersenyum lebar.
“masak
kamu santai gitu sih, aku aja pagi2 tadi grogi..” jawabku cemberut
“udah
tenang aja rii, ntar kalo ada yang galak lapor aja sama aku.. hehehe” jawab
yuli nyengir.
Part 2 ........
Menemukanmu
Hari
pertama PKL berlalu, aku masih merasakan kaku saat bicara dengan pegawai
kantor. Namun si yuli, dia sangat akrab dengan beberapa pegawai. Hari demi hari
berlalu, aku merasa bosan dan suntuk di kantor itu. Saat dikantor aku lebih
sering menghabiskan waktuku untuk membuka media sosial dan menghubungi teman2ku
yang ada dikantor lain.
Malam
ini malam minggu, aku merasa bingung harus menghabiskan waktuku untuk apa, yaa
akhirnya aku hanya dikamar dan membuka laptop kesayanganku. Aku tidak akan
pernah lepas dengan dunia mayaku. Karena disanalah aku mendapatkan kedamaian.
Tuing
Ada
pesan di facebook dari salah seorang teman facebookku..
“haii
cantikkk, boleh kenalan gak nihh?”
“boleh
aja” balasku cuek
“nama
kamu siapa? Aku zaenal ”
“aku ria”
jawabku masih cuek
“kamu
tinggal dimana?”
“di gang
kelinci desa seruni” jawabku
“lohh,
kamu tinggal disitu, aku deket lo sama kamu, aku tinggal di desa arummanis”
“ohh ya,
masih satu kecamatan dong kita, kamu masih sekolah?” tanyaku sedikit penasaran.
“aku
baru lulus tahun ini, barusan kemarin konvoi kelulusan. Kalo kamu masih
sekolah?”
“iya aku
masih sekolah, kelas 2 di SMK Nusa” jawabku
“emm..
ternyata aku baru tau kalo kamu tetanggaan desa sama aku.. hehehe”
“hehehe..
” balasku sambil mengirimkan emot ketawa
“punya
akun skype gak?” tanya dia
“punya,
emang kenapa?”
“boleh
gak kalo kita videocall lewat skype?”
“boleh
aja . akunku ini .........” sambil menyebutkan nama akun skype milikku.
“oke,
tunggu yaa.. akun invite sekarang..”
Sambil menunggu dia, aku membuka akun
facebooknya dengan sedikit penasaran.
“ganteng
juga” gumamku saat melihat foto zaenal.
Tuing
Suara
itu berasal dari akun skype milikku.
Ternyata
itu benar dari zaenal
“Haii
cantikkk”
Aku
hanya membalas dengan emotikon menyapa.
“Kita
vcall yukkk?” pintanya tanpa basa-basi.
“boleh..”
tanpa sadar aku meng-iyakan
Aku
memulai vcal dengan zaenal saat pertama kali itu juga kita kenal di facebook.
Singkat memang, aku berkenalan dengannya. Namun seiring berjalannya waktu, kita
sering videocall dan saling bertukar nomor ponsel, aku bahkan merasa nyaman
dengannya.
Ini
memang bukan perasaan pertama bagiku, aku pernah merasakan jatuh cinta saat
masih SMP. Namun aku merasakan getaran lain saat kita ngobrol di skype dan chat
di medsos.
“ahh...
aku kepikiran zaenal terus” gumamku sambil mengacak-acak rambutku.
Tak
berselang lama, dia sms dan bilang pengen ketemu denganku. Aku langsung
menanggapinya dan tanpa pikir panjang, aku bergegas menemuinya.
Ditempat
yang udah dia tentukan, aku menunggunya. Aku merasa kesal karena aku duluan
yang sampai dan harus menunggu dia.
Tiba-tiba
terdengar suara dari belakang..
“riaa
yaa... aku zaenal..” sambil mengulurkan tangan kepadaku.
“ii-iyaa”
jawabku sedikit gugup.
Kemudian
dia duduk didepanku.
“wahh,
ternyata kamu agak chubby ya... ” ungkapnya senyum memandangiku.
“kenapa
emangnya.. aku jelek ya” jawabku cemberut dan sedikit kesal.
“ehh
ehh.. jangan tersinggung donkk.. aku kan ngomong apa adanya.. tapi kamu juga
cantikk kok.. ” jawabnya sambil sedikit merasa bersalah.
“gombal
ahh..” ucapku ketus
“emm
ngomong-ngomong, kamu beda lho dari yang aku liat di foto.. emang sih kamu
chubby tapi aku gak nyangka, kamu cantik banget..” ucapnya sambil senyum
mengembang dipipinya.
“kenapa
ya, kalo aku ketemu sama orang baru pasti bilang aku chubby, kenapa gak
langsung ngomong kalo aku gendut dan jelek”
“kok
ngomong gitu sih, beneran tau kamu cantik meskipun sedikit chubby” ungkapnya
sambil terus memandangiku.
“yaudah..
aku mau balik pulang dulu, aku tadi pamit pergi 10 menit”
“yaudah..
bye riaa chubby” balasnya
“ria
chubby..” aku melotot kearahnya dan berbalik meninggalkan zaenal.
Sesampainya
dirumah, aku masih terus chat sama zaenal. Baru seminggu ini aku kenal sama
zaenal. Dan aku yakin kalo zaenal juga suka sama aku. Beberapa hari kemudian
setelah pertemuan itu, zaenal mengungkapkan perasaannya kepadaku. Jantungku berdegup
kencang, ohhh inikah yang dinamakan fallin in love???. Dan aku juga langsung
menerimanya tanpa basa-basi.
“okee...
jadi kita resmi pacaran ya sekarang” ucap zaenal diseberang sana
“iyya kita pacaran” jawabku malu2
“love u
sayang”
“ love u
more sayang” jawabku.
Setelah
resmi pacaran, aku merasa hari-hariku menyenangkan dan berbunga-bunga. Tak
terasa waktu PKL ku sudah hampir berakhir. Dan aku menjalani masa PKL ku dengan
biasa saja. Aku hampir lupa kalo selama ini yuli terus memperhatikanku yang
sering senyum2 sendiri saat dikantor.
“ciiee
ada yang lagi kasmaran nih.. cieee” ucap yuli mengagetkanku
“heehee...
kamu mah usil aja..” jawabku.
Waktu
PKL pun berakhir, tak terasa sudah sebulan aku menjalani hubungan dengan
zaenal. Meskipun gaya pacaran kami yang biasa dan jadul banget, tapi kami
menikmatinya dan tidak banyak menuntut untuk bisa bertemu.
Senin,
hari pertama aku mulai kesekolah lagi setelah PKL seleasai. Aku bertemu dengan
sahabat2ku yang tidak kalah rempong dan cerewet. Pertama kali, aku berbincang
dengan sahabatku yang kebetulan teman sebangku denganku. Namanya jamilah, dia
lugu dan pendiam.
“haii
jamilahh... gimana PKL nya, galak2 gak pegawai dikantormu?” tanyaku langsung ke
inti
“riaa..
kamu baru berangkat.. iyaa lumayan galak sih, tapi menyenangkan juga.. heehehe”
jawabnya sambil tertawa
“ohhh
syukurr deh kalo gitu. Aku sih gak merasakan menyenangkan dikantorku, biasa
bangett” ucapku tersenyum sinis
Jamilah
hanya tersenyum dan tak bicara lagi.
Tak
terasa sekarang aku sudah kelas 3, aku merasa beberapa hari terakhir zaenal
jarang menghubungi diriku karena dia sibuk dengan kuliah barunya. Ohh iya, zaenal sekarang kuliah di kota
tepatnya di semarang. Dia hanya mengambil program 1 tahun saja.
“sayangg”
aku mengawali chat di skype
“iya
sayangku, kangen ya?”
“iyalah
kangen, udah seminggu lho kamu sibuk dan gak ngabarin aku” balasku sedikit
kesal
“maaf ya
sayang, aku baru beli paketan internet ini, makanya baru on lagi di medsos”
jawab zaenal
Yaaa..
kita memang lebih memilih berhubungan lewat medsos ketimbang lewat sms atau
telepon.
“iyaa
deh sayang.. aku ngerti” jawabku sedikit cemberut
Selang
beberapa menit, dia belum juga bales chat dariku.
“hmm... lama
banget balesnya” gumamku dalam hati
Part 3....
Kecurigaanku
Sambil terus
memegang ponselku aku terus memandangi akun facebook milik zaenal, pacarku. Aku
merasa kalo dia sudah mengabaikanku. Akhir2 ini dia sering gak balas chat aku,
ditelpon juga gak jawab, aku jadi semakin galau. Dan aku memutuskan untuk
membuka akun facebook milik dia.
Aku terus
membuka pesan diakun milik zaenal, banyak sih yang chat sama dia, kebanyakan
zaenal yang mulai duluan chat. Dan aku merasa dibohongi ketika ada chat yang
isinya cukup mengagetkanku.
“apa
sayang??? Dia manggil sayang?? Apa –apaan ini” gumamku sambil melotot kearah
laptop
“jadi
ini yang bikin dia sibukkk??” gumamku dalam hati
Pantas aja
beberapa hari terakhir ini dia sering sibuk dan gak bales chat aku. Jadi begini
alasannya. Ohh tuhann, baru kemarin merasakan indahnya dicintai, dan sekarang
aku harus merasakan sakitnya dikhianati.
Tanpa sadar
air mataku pun menetes. Bahkan belum genap pacaran 2 bulan dan sekarang aku
harus mengakhiri kisah cinta ini? Ohhh sungguh menyakitkan. Akupun langsung
memikirkan cara untuk menyelidikinya.
Pagi ini
aku terlambat kesekolah. Mataku terlihat sembab dan bengkak. Mungkin efek dari
menangis semalam. Jujur saja, aku tak dapat tidur dan harus terjaga semalaman
sambil memikirkan cara untuk menyelidiki hubungan zaenal dan cewe baru itu.
Terlintas
diotakku untuk langsung menanyakan hal tersebut pada zaenal, namun aku tidak
bisa melakukan itu. Itu hanya akan merusak rencanaku dan pastinya dia gak akan
pernah ngaku. Aku menyadari, semenjak dia pergi dan kuliah di semarang, aku merasa
kita semakin jauh saja. Bahkan untuk bisa chat dan videocall saja tak ada
waktu. Alasannya sama, sibuk sibuk dan sibuk.
Akhirnya
aku memutuskan untuk bertanya pada beberapa teman zaenal. Aku memang tidak
pernah bertemu langsung dengan teman2nya, namun ada beberapa teman zaenal yang
kenal sama aku di facebook. Aku pun memulai dari teman yang ku anggap paling
dekat dengan zaenal.
Namanya ilham,
dia teman dan sekaligus tetangga zaenal.
“jadi
nita itu mantannya zaenal? ” nita adalah nama cewe yang chat2 mesra sama zaenal
di facebook.
“iyaa
riaaa... zaenal gak pernah cerita sama kamu?” tanya ilham
Aku hanya
menggelengkan kepala.
Aku berpikir,
apakah zaenal dan mantannya balikan lagi atau mereka belum putus? Ahh segerombol
pertanyaan ada diotakku.
“apa
nita adalah cinta pertama zaenal?” tanyaku pada ilham
“entah..
aku kurang tau” jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.
Aku pun
memutuskan untuk pulang kerumah, karena tadi setelah pulang sekolah, aku
janjian ketemuan sama ilham. Lumayan sih info yang kudapat hari ini. Aku merebahkan
tubuhku dan menatap langit2 atap rumahku. Terngiang terus kata2 ilham tadi.
“mantan..
mantan.. mantan..” gumamku sambil menggigit jari.
Aku memutuskan
untuk beristirahat dan melupakan sejenak masalahku ini.
3 hari
kemudian...
Part 4
.......
Aku
menginjakkan kakiku dibumi semarang... ohh inikah petualangan pertamaku? Aku
merasa bebas setelah sekian lama aku terkurung dan hanya hidup diruangan kecil
dengan dunia mayaku. Yaa.. aku memutuskan untuk jalan2 ke semarang dengan satu
tujuan yaitu bertemu dengan pacarku. Aku sempat tidak mendapatkan ijin dari
orangtuaku. Namun apa daya, aku bersikeras untuk tetap pergi. Disini aku
menginjakkan kaki bermodalkan tekad untuk bertemu dengan zaenal. Sambil membawa
secarik kertas yang bertuliskan alamat, aku naik taksi dan akhirnya sampai
ditempat tujuanku.
Emosiku
meledak-ledak, banyak sekali pertanyaaan yang sudah aku persiapkan ketika
bertemu dengannya.
“jadi
ini kos-nya zaenal” gumamku ketika turun dari taksi
Kos itu
keliatan sepi, tidak terdengar suara aktivitas apapun dari kos itu.
“permisi...”
suaraku lembut
“permisi...”
suaraku mulai meninggi
“permisiii.....
” aku sudah tidak sabar lagi
Tiba-tiba
muncul wanita paruh baya dari kos sebelah. Kelihatannya wanita ini seumuran
dengan mamaku.
“cari
siapa dik?? ” sapa wanita itu sambil mendekat padaku
“emm...
anuu bukk... zaenalnya kos disini kan?” jawabku sambil mengulurkan tangan
kepadanya
“ohhh
zaenal.. mungkin masih kuliah dik.. coba telpon saja dik. Mungkin masih ada
dikampus. ” jawabnya sambil tersenyum kepadaku...
Aku
hanya mengangguk dan mengeluarkan ponsel dari dalam tasku.
Aku
mengirim beberapa pesan kepada zaenal namun hasilnya nihil.
Aku
terus menunggu didepan kos zaenal. Sampai jam ditanganku menunjukkan pukul 5
sore, aku masih duduk disini.
Tiba2 suara
motor terdengar mendekat kearahku. Terlihat dua orang sosok yang kaget ketika
melihatku disana. Aku cukup familiar dengandua orang itu. Zaenal dan nita. Ya
aku memang baru pertama kali melihat sosok wanita ini, tapi aku bisa
menyimpulkan siapa wanita itu.
“riii-riiiaaa”
ucap zaenall sambil melotot kearahku
“siapa
dia yank?” ucap wanita itu sambil memicingkan matanya kearahku.
“yank???
” aku berkata dalam hati
“emmm...
anu... di-diaa temanku..” ucap zaenal terbata-bata
“ohhh
jadi kita temann ya... terus selama ini kau anggap kita hanya teman??” suaraku
meninggi sambil menahan air mata
“rii-riiaa
maafkan aku... aku gak bermaksud...” zaenal sambil memegang tanganku.
Spontan
aku mengibaskan tanganku.
“okeee...
gapapaa... mungkin ini yang pantas aku dapatkan.. ” aku berlari sambil mengusap
air mata dipipiku.
Terdengar
suara zaenal yang masih terpaku dan ingin mengejarku.
Aku tau,
aku tak secantik nita. Aku juga tau, gaya pacaranku masih kolot dan jadul. Aku
tau semua itu. Aku seolah dihadapkan pada kenyataan yang sama sekali tak ingin
aku bayangkan.
Jauh-jauh
ke sini hanya dapat penghianatan. Tuhan, entah apa yang Engkau rencanakan.
Sambil
terus berlari tanpa tujuan. Aku semakin bingung dan entah apa yang harus aku
lakukan saat ini. Aku tak tau arah untuk pulang, sanak saudara pun aku tak
punya. Teringat sejenak akan lagu kesukaanku
“aku
terjatuh dan tak bisa bangkit lagi... aku tenggelam dalam lautan luka dalam..
aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang...”
“apaaaa...
aku tersesattt????” gumamku dalam hati
Tuhan
memang sungguh kejam kepadaku. Dikota yang seramai ini, aku harus dihadapkan
pada kenyataan yang pahit. Pertama, aku baru saja putus dengan cara yang
sungguh menyakitkan. Kedua, disini aku tak punya teman ataupun saudara.
Aku
terus berjalan lurus tanpa mempedulikan orang-orang yang lalu lalang. Sampai
aku tiba di pusat kota. Yaaa.. aku tiba di alun2 kota ini. Sejenak, aku lupa
akan masalahku ketika melihat indahnya kota ini. Banyak orang-orang berjualan
disini, aku melihat banyak pasangan yang sedang menikmati kebersamaan mereka.
Seketika aku merasa lapar, bahkan sangat lapar. Aku langsung berjalan mendekati
salah satu makanan favoritku.
“hmmm.. lumpiaa.. pasti enak nih..” gumamku ketika didepan penjual lumpia.
“hmmm.. lumpiaa.. pasti enak nih..” gumamku ketika didepan penjual lumpia.
Setelah
aku mendapatkan pesananku.. aku duduk di pinggiran alun2 kota ini. Sambil
menikmati nikmatnya makanan ini, aku menikmati suasana kota yang ramai ini. Aku
selalu tersenyum ketika ada anak kecil yang lewat bersama orangtuanya. Aku
selalu membayangkan pasti bahagia jadi anak kecil itu yang selalu dikelilingi
orang yang menyayanginya.
Tiba-tiba
ada seseorang dari belakang yang menyenggolku.
“aduuhhh...
” aku meringis kesakitan sambil mengambil ponselku yang terjatuh.
“ehh
ehh.. maaf mba.. maaf saya nggak ngeliat tadii... maaf ya mba..” ucap lelaki yang menyenggolku tadi
“iya
gapapaa mas.. ” aku hanya terseyum tipis kepadanya
Tiba-tiba
dia duduk disampingku. Aku langsung kaget dan melotot kearahnya. Pikirku,
kenapa dia malah duduk disini? Ahhh merusak mood saja.
“kamu
bukan orang sini ya?” tanya lelaki itu mengawali percakapan
“iyaa..
aku baru pertama kali kesini.. aku dari pati..” jawabku
“pantesan
” jawabnya sambil tersenyum sinis kepadaku
“pantesan
apaan? Aku gak norak-norak kok...” ucapku ketus
Dia
hanya tersenyum dan tanpa mengeluarkan kata2 lagi.
“emmm..
aku harus pergi dulu..” ucapku kepadanya sambil berdiri dan bersiap pergi
“kamu
mau pergi kemana???”
“kemana
aja” jawabku cuek
Ternyata
dia mengikuti dari belakang. Apa yang dia lakukan? Apa dia orang jahat?
Beberapa pertanyaan menembus otakku. Seketika aku menoleh kebelakang dan
melihatnya dengan penuh curiga.
“ngapain
kamu ngikutin aku??” tanyaku dengan suara penuh curiga
“mau
liat aja kamu mau kemana.” Jawabnya cuek dan dingin
“itu
bukan urusan kamu... kenapa kamu ngikutin aku sih?? Apa jangan-jangan kamu
penculik?? Atauu kamuuu....????”
“sssttt...
jangan berpikiran buruk padaku...” jawabnya sedikit lembut
“terus
maksud kamu apaa coba?? ” tanyaku penasaran.
“hmmm...
aku liat kamu hanya berjalan tanpa arah. Makanya aku ngikutin kamu.. emang
sebenernya kamu mau kemana sih?? Atau kamu gak punya tujuan??” tanyanya dengan
tatapan penuh perhatian
Aku
hanya mengangguk pelan. Kemudian dia langsung menarik tanganku dan menyuruhku mengikutinya.
Sampai
didepan sebuah mobil jazz warna merah, dia membukakan pintu padaku.
“masukk...
jangan berpikiran aneh2 padaku... ” ucapnya
Aku
hanya mengangguk pelan. Aku tak tau harus senang atau takut. Aku senang karena
aku pikir aku punya teman dikota ini. Tapi, aku juga takut kalau dia bahkan
ngapa2in aku. Lagipula, aku nggak tau siapa namanya.
Dimobil
kami berdua hanya diam tanpa sepatah katapun. Aku melihat kearah jendela mobil,
“ini dimana??” gumamku dalam hati.
Tiba-tiba
aku tiba di rumah yang minimalis dengan gaya modern seperti yang aku liat di
sinetron2.
“ayo
turun” katanya tiba2 memecah keheningan.
Kami
berdua masuk kedalam rumah tersebut. Rumah ini keliatan sepi sekali. “Apa tidak
ada orang dirumah ini?” pikirku dalam hati.
Dia
merebahkan tubuhnya disofa ruang tengah rumah itu.
“ngomong2
nama kamu siapa??” tanya lelaki itu
“a-akku riiaa” jawabku sedikit gugup.
“okee...
panggil saja aku adit. Aditya namaku.” Jawab lelaki itu.
“kenapa
kamu membawaku kerumahmu??” jawabku penasaran.
“aku kasihan
sama kamu. Mau kemana malam2 seperti ini?? Tinggal lah disini sementara.”
Aku
hanya mengangguk pelan.
Part 5
Aditya
Pagi
yang cerah menyapaku. Dengan sinar yang begitu mengembang dan membuat bumi ini
menjadi panas, aku bangun kesiangan. Kulihat jam di atas meja menunjukkan pukul
9.
“selamat
pagi duniaa.. arrggghh” gumamku tersenyum pada diriku sendiri
Aku
tersadar dan kemudian aku mandi dan keluar dari kamar.
“selamat
pagi nyonya besar?? Apa tidurmu nyenyak??” tanyanya dengan tersenyum sinis padaku.
“maa-maaff
aku bangun jam segini. ” jawabku sambil menundukkan kepala.
“cepat
duduk dan makan makananmu” ucapnya dingin kepadaku.
“terimakasih”
jawabku pelan
Setelah
selesai makan, aku ke dapur dan mengambil minum. Setelah itu aku duduk disofa
bersama adit. Aku baru sadar kalau adit begitu keren. Dengan perawakan yang
tinggi, tegap , putih dan rambut yang acak2an, aku melihat pria itu begitu
manis ketika tersenyum.
“kamu
mau jalan2 kemana??” tanyanya mengagetkanku
“jalan2??
Aku tidak mempunyai rencana untuk itu. Aku mau pulang saja.” jawabku
“kenapa
buru2? Tinggallah disini 3 atau 4 hari lagi.” Pintanya kepadaku
Aku
tidak mengatakan apapun dan tanpa ekspresi pula.
“ayo
ikut aku jalan2 ” tiba2 menarik tanganku.
“kemana??”
“udah
ayo ikut aja. Pasti kamu gak bakal nyesel.” Jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku
merasa dia sangatlah tampan, dan mengapa jantungku berdegup kencang seperti
ini?? Tidak mungkin aku menyukai orang secepat ini.
Sampai
tiba di sebuah tempat, aku langsung mengenali tempat itu.
“lawang
sewu” gumamku saat turun dari mobil adit.
Aku
mengikuti adit masuk kedalam, dan dengan perasaan yang sangat bahagia aku
seolah berada di surga. Seketika aku lupa akan pengecut yang telah membuat
hatiku hancur berkeping-keping.
Aku
mengeluarkan ponselku dan mengambil beberapa gambar dari sudut ruang tempat
ini. Tiba2 adit menyambar ponselku.
“heiii...
apa yang kau lakukan??” aku meninggikan suaraku
“ayo
kita selfiie. hahaha” jawabnya sambil tertawa penuh kebahagiaan.
“boleh...”
jawabku sambil tersenyum juga kepadanya
Setelah
menelusuri sudut tempat ini, aku merasa capek dan berkeringat.
Sambil
membuka ponselku, aku melihat hasil jepretan tadi. Adit sangat bahagia.
Senyumnya begitu manis. Tiba2 dari belakang dia menggandengku dan mengajakku
berjalan menuju caffe dekat tempat tadi.
Kami
berdua masuk dan memilih menu yang ada.
“hot
chocolate aja mas” kataku kepada pelayan
“aku
juga” adit tersenyum kearahku
Sambil
menunggu pesanan kami, kami berdua hanya terdiam dan terlihat canggung untuk
memulai percakapan.
“sebenernya
kamu kemarin ngapain di alun2 sendirian??” tanyanya mengagetkanku
“ehh...
emmm akuu kemarin... aku kemarin pengen aja disitu.” Jawabku tanpa pikir
panjang
“terus
tujuan kamu apa kesini??” tanyanya penasaran.
“akuu...
sebenernya akuu kemarin mau ketemu sama pacarr... ehh mantan” jawabku sambil
tersenyum tipis
“mantan
atau pacar nih??” tanyanya menggodaku
“sejak
kemarin mantan.. hehehe” jawabku
“ohh..
jadi kosong dong sekarang... hehehe”
“emang
bangku kosong??” jawabku membalas senyumnya
Pesanan
kami pun datang.. hot cokelat memang
minuman favoritku. Meskipun cuaca yang terik, aku tidak mempedulikan
itu.
Kami pun
terdiam dan menikmati minuman kami. Setelah beberapa menit, aku melihat keluar
kearah kaca. Aku terdiam dan tanpa sadar, air mata menetes dipipiku. Adit pun
mengikuti arah pandanganku. Diluar ada dua orang insan yang saling bermesraan
berjalan kearah cafe tempat kami duduk. Ketika mereka masuk, aku melihat zaenal
kaget saat melihatku.
Aku
berusaha menahan air mataku ketika berhadapan dengannya. Zaenal pun mengalihkan
pandangannya kearah pria yang ada didepanku.
“sayang,
ayo kita duduk disana” ucap nita memecah keheningan diantara kami berdua.
Aku pun
kembali memfokuskan pandanganku pada hot cokelatku. Tiba2 adit menarik tanganku
dan menggandengku keluar cafe.
Aku
menunggu didepan cafe, sementara adit mengambil mobilnya yang diparkir lumayan
jauh dari tempat ini. Tiba2 ada tangan yang memegang pundakku seraya berkata.
“riiaaa”
Spontan
aku membalikkan badanku.
“mau apa
lagi kamu?? Belum puas kamu bohongi aku??” kataku ketus dan penuh kebencian.
“riiaa...
kamu dengerin aku dulu... aku gak bohongi kamu... dia yang maksa aku buat
balikan lagi.. aku udah berusaha nolak, tapi dia selalu menempel padaku.”
Jawabnya sambil meyakinkanku.
“aku gak
mau tahu tentang kamu lagi” jawabku kesal
Tiba2
adit turun dari mobilnya dan bediri disampingku.
“siapa
dia sayang?? Mantan kamu yang pengecut itu ya?? ” ungkap adit serasa
menggandeng tanganku.
Aku
hanya melotot kearah adit. Aku tidak percaya dengan yang adit katakan barusan.
“riaaa...”
zaenal seolah menanyakan kebenaran padaku.
“denger
ya, kamu gausah ganggu ria lagi. Sekarang dia pacarku.” Adit dengan nada yang
tegas.
Dengan
cepatnya adit menggandengku kearah mobilnya. Beberapa menit kemudian suasana
menjadi hening. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut kami berdua.
Kemudian aku berusaha memecahkan keheningan dan berkata
“apa
yang kamu lakukan tadi??”
Dia
menoleh kearahku dan tersenyum
“aku
hanya menolongmu tadi..” jawabnya singkat
“tapi
kamu gak perlu ngaku2 sebagai pacar kan?? ” suaraku sedikit serak
“emang
kenapa? Kamu gak mau punya pacar setampan diriku ini?” jawabnya dengan penuh
percaya diri
“isshhh....”
aku hanya mendesis mendengar perkataan adit barusan
Kami
tiba dirumah adit. Ini sudah sore, dan waktunya mandi dan beristirahat. Aku
bingung harus memakai baju apa, karena aku hanya membawa baju ganti 1 pasang
saja. Tiba2 terdengar suara ketukan dibalik pintu.
“boleh
aku masuk?” suara dibalik pintu itu
“boleh..
ini kan rumahmu” jawabku pasrah
“aku tau
kamu gaada baju lagi.. dann ini sementara pake aja bajuku.” Ucapnya dengan
ramah
“terimaa
kasihh” jawabku pelan
“Mandilah
dan cepat keluar temani aku makan malam” katanya sambil berjalan keluar kearah
pintu.
Setelah
selesai mandi dan membersihkan tempat tidurku, aku berjalan keluar menuju ruang
tengah. Disana sudah ada adit yang sedang menonton tv.
“kamu
udah selesai? ”
Aku
hanya menganggukkan kepala.
“ayo
kita makan malam. Aku lapar” ungkapnya sambil memegang perutnya.
Tiba
disebuah tempat, aku tau tempat ini. Yaa ini alun2 kota. Ternyata rumahnya tak
jauh dari pusat kota.
Kami pun
turun dan menuju kesalah satu tempat makan lesehan dipinggiran alun2 ini.
Ternyata selera adit gak jauh beda sama orang desa. Suka makan di lesehan ketimbang
di cafe atau restoran. Akupun hanya mengikutinya.
“bang,
nasi goreng dua ya” ucap adit
“okee
broo” jawab abang penjual nasgor itu.
Sepertinya
mereka sudah saling akrab. Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua.
“kamu
harus cobain nasi goreng disini. Pasti gak bakal nyesel deh. Dijaminn
pokoknya.. heheehee” adit sambil tertawa menunggu pesanannya.
Setelah
pesanan tiba, kami pun langsung menikmatinya. Tanpa sadar, kami berdua melahab
habis nasgor tadi. Memang rasanya sangat enak, sampai2 tak ingin rasanya
berhenti makan.
Sembari
menunggu adit membayar ke abang penjual tadi, aku hanya menunggu dipinggiran
alun2 itu.
“ayo
kita pulang” suara adit mengagetkanku
“ehh..
iyaa” aku hanya menjawab pelan
Sebelum
pulang adit membawaku ke toko baju. Aku tak tau apa yang ada dipikiran adit.
Dia membawaku ketempat baju untuk wanita dan mengambil beberapa baju. Dia
menempelkan baju ke tubuhku dan sepertinya dia mengukur baju mana yang pas
untukku. Setelah beberapa menit. Adit memutuskan untuk membeli 2 baju wanita.
Aku tau itu baju wanita, aku berpikir keras untuk siapa baju itu.
Setelah
tiba dirumahnya. Dia melemparkan baju itu kearahku seraya berkata. “ini
untukmu”
Aku
kaget dan melotot kearahnya, namun dia berjalan menuju kekamarnya.
Part 6
Hari-hari
bersamanya
...................
Pagi ini
aku bangun pagi2 sekali. Aku berusaha untuk membangunkan adit yang masih
terlelap dikamarnya. Aku berencana untuk pulang ke kampung halamanku hari ini.
Namun setelah mengetuk pintu kamar adit beberapa kali tidak ada jawaban. Aku
pun berusaha masuk kekamarnya. Di ranjang itu terlihat adit yang masih
mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Aku melihat adit yang tidur dengan
polosnya, terlihat begitu manis. Aku memegang kening adit dengan tanganku, dan
ya tuhan badannya sangat panas. Mungkin dia demam. Aku bergegas kedapur
mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres adit. Dirumah ini tidak ada
siapa2. Adit hanya tinggal sendirian disini. Kemudian aku kembali kekamar adit
dan mengompresnya. Dia berusaha bangun, namun aku menyuruhnya untuk tetap
berbaring. Aku keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Aku tau harus membuat
apa. Bubur.. aku harus buat bubur. Dengan bahan seadanya aku membuat bubur
untuk adit. Aku membawa bubur itu kekamar adit.
“adit...
makan bubur dulu ya..??” pintaku sambil membangunkannya\
Dia
hanya mengangguk pelan. Akupun menyuapinya. Setelah makan, aku memberinya obat
penurun demam. Aku menungguinya dipinggir ranjang. Tanpa sadar aku ketiduran
disamping adit. Kurasakan ada tangan yang membelai rambutku. Akupun membuka
mataku dan melihat adit sudah bangun.
Aku langsung bangun dan memegang keningnya. Kurasakan panasnya udah
turun.
“syukurlah...
panasnya udah turun..” gumamku didepan adit
“kamu
yang ngurus aku ya... makasihh riaa” suaranya sedikit lemah.
Aku hanya
menganggukkan kepala.
Aku
hendak keluar dan melihat jam ditanganku, sontak aku kaget. Apa jam 4 sore?
Gimana aku bisa pulang. Kenapa aku ketiduran sih.. aku menyesali dan harus
menunda kepulanganku.
Tiba2
tangan adit memegang tanganku..
jantungku berdegup kencang. Perasaan apa ini tuhan?? Aku seolah tak
dapat berkata2 lagi.
Aku
menoleh ke belakang dan berkata
“ada apa
dit??” tanyaku
“jangan
pergii.. aku membutuhkanmu” jawab adit memelas
Aku
menghela napas panjang dan menatapnya.
“iyyaa”
jawabku pelan
Aku
meninggalkan kamar adit dan menuju kamarku. Dikamar, aku seolah kebingungan.
Aku menatap langit2 rumah ini dan berpikir bagaimana aku bisa pulang. Sudah 3
hari ini aku meninggalkan orang tuaku. Padahal aku Cuma pamit 2 hari pada
orangtuaku. Akhirnya aku menemukan jalan keluarnya. Aku berencana pulang besok
ketika adit sudah sembuh. Aku memutuskan untuk beristirahat.
Drrrrtttt....
drrtttt...... drttttt....
Terdengar
getaran dari ponselku. Dan akupun bangun pagi ini. Aku melihat diponsel
terdapat nama “mom”. Akupun
mengangkatnya dengan penuh rasa takut. Pasti aku akan dimarahi.
“iya
maa... aku akan pulang. ”jawabku mengakhiri telepon mamaku.
Aku
melihat jam diatas lemari yang menunjukkan pukul 7 pagi. Aku lalu bergegas
kearah kamar mandi.
Setelah
semua persiapan selesai, aku keluar dan membawa tas yang berisi pakaianku.
Kulihat
adit ada diruang tengah. Pagi sekali dia bangun. Apa dia sudah sembuh? Aku
bertanya2 dalam hati.
“riaa...
kamu mau kemana??” tanya adit kaget melihatku
“aku mau
pulang dit.. mamaku mengkhawatirkanku” jawabku pelan
Tiba2
adit menghampiriku dan menatapku.
“secepat
inikah kau pulang??”tanyanya memelas
Aku
hanya mengangguk. Tiba2 kedua tangannya mendekap tubuhku. Dia memelukku.
Memelukku dengan erat. Aku tidak marah dan justru aku merasakan kehangatan
ditubuhku. Jantungku pun berdegup kencang. Aku berusaha melepaskan pelukannya,
namun tubuhnya terlalu besar untuk aku lepaskan. Tak lama, dia melepaskan
pelukannya dan menatapku.
“riaa...
jangan pergii” pintanya memelas
“tapii
ditt... aa-aakuuu” jawabku terbata2
“rii..
aku tau kita baru kenal, tapi aku merasa nyaman saat bersamamu..” ungkap adit
mengagetkanku
“aku gak
mau kehilangan kamu rii... aku sayang sama kamu... ” ungkapnya lagi...
“tapii
ditt... aku gabisa... aku bahkan tidak mengenal dirimu, aku hanya tau namamu..
aku tidak semudah itu menerima pria untuk mengisi hatiku.” Jawabku sambil
menatap kedua bola matanya yang terlihat memelas.
“apa
kamu gak suka sama aku? Apa kamu gak sayang sama aku? Terus perhatian yang kamu
kasih kemarin itu apa??” suaranya sedikit serak
“bukan
masalah sayang atau gak sayang.. aku cuma belum mengenal kamu ditt..” jawabku
mencoba menenangkan adit
“riaa...
jawab aku jujur. Apa kamu gak sayang sama aku?” tanyanya pelan
“ditt...
kalo kamu mau aku jujur, aku sayang sama kamu. Aku selalu gugup ketika menatap
matamu.. jantungku selalu berdetak kencang ketika berada disampingmu.. ”
jawabku
“kalo
begitu mari kita coba rii... ” pintanya pelan
“tapii...
apa kamu bisa menjalani hubungan jarak jauh ini??” tanyaku berbalik kepadanya
“aku
yakin, aku bisa riii..” jawabnya
Akhirnya
dia memelukku lagi.. aku yakin bahwa aku telah merasakan yang namanya “fallin
in love”.
Aku
menunda kepulanganku lagi dan genap 1 minggu aku dikota ini. Akhirnya aku
pulang dengan membawa sejuta cerita untuk aku ceritakan pada sahabatku. Yaaa..
aku pulang diantar oleh adit. Aku memperkenalkan adit sebagai pacarku. Ya aku
memang masih kelas 3 smk namun aku yakin akan perasaan ini.
Part 7
Kuliah
bersamanya
.....................
Aku
menjalani hari2ku seperti biasa. Sebentar lagi aku akan menghadapi ujian akhir.
Setelah itu aku berencana untuk kuliah disemarang. Yaa.. alasan pertamaku
adalah supaya dekat dengan kekasihku itu. Hubunganku pun berjalan dengan
lancar. Setiap hari kami menghabiskan waktu untuk chat dan telepon. Setiap
akhir minggu dia mengajakku untuk videocall. Aku merasa sangat bahagia. Tuhan
sepertinya sedang memihak padaku.
Ujian
akhir pun selesai. Aku mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku tau, aku tidak
bodo-bodo amat. Dulu aku sering masuk peringkat 1 sampai 3. Akupun sudah
mendaftar di universitas yang sama dengannya. Sekarang aku semester pertama dan
adit semester 5. Usia kami hanya terpaut 3 tahun saja. Aku lebih memilih
tinggal di kosan sederhana, walaupun adit mengajakku untuk tinggal dirumahnya. Adit
selalu mengantar jemputku kuliah. Bahkan, ketika makan pun kami selalu bersama.
2 tahun
kami berada di kampus yang sama. Dan aditpun sudah waktunya meninggalkan kampus
ini. Setelah wisuda, adit bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak
dibidang kontruksi.
Aku masih
bergumul dengan buku2 dan setumpuk tugas. Meskipun kami terpisah, adit selalu
menyempatkan waktunya ketika sepulang kerja untuk menemuiku atau sekedar
mengajakku makan malam.
Aku bahagia...
sungguh bahagiaa...
-----------------bersambung
Hiks gila kenapa gag dilanjutin coba ,,, udah baper tauk
BalasHapushehehe makasihh kakak udah mau baca
BalasHapus